Menjadi Guru

Menjadi guru adalah proses pembelajaran seumur hidup.

Dengan menjadi guru, kita belajar untuk memahami tiap pribadi siswa, yang kita harus sadari bahwa tiap individu memiliki karakteristik yang berbeda, kecenderungan yang berbeda, bakat yang berbeda, ketertarikan dan minat yang berbeda. Maka tugas kita adalah belajar untuk memahami tiap perbedaan tersebut, untuk mampu mendidik dengan adil.

april_2017-04-13-20-14-51-730.jpg
Dengan menjadi guru, kita akan terus meningkatkan kapasitas dan kualitas keilmuan dan pembelajaran kita. Kita dituntut tidak hanya paham suatu konsep dan teori tetapi juga belajar bagaimana menyampaikan konsep dan teori tersebut untuk dapat dipahami oleh siswa, dengan berbagai cara dan metode. Karena terkadang tiap konsep dan teori membutuhkan cara dan metode yang berbeda untuk bisa tersampaikan dan dipahami oleh siswa dengan baik.

Continue reading

Tawadzun dalam Amanah

Terkadang kita merasa cukup dengan amanah yang bisa tuntas kita kerjakan di luar sana.
Amanah-amanah yang menghadirkan decak kagum orang, tepuk tangan dan hal-hal gemerlap lainnya.

Namun, kita mengesampingkan bahwa ada amanah yang lebih besar, yang Allah berikan langsung kepada kita.
Melalui mitsaqan ghaliza,
Disaksikan para malaikat.
Amanah yang didapat ketika ijab terbalas oleh qabul.
Amanah itu adalah istri kita.

april_2017-06-25-15-51-29-567.jpg

Kita bersibuk ria,
Membawa pekerjaan ke rumah,
Membalas chat-chat yang menurut kita penting saat makan berdua,
Mengsampingkan bahwa ada hati yang ingin didengar curhatannya,
Hati yang ingin dipahami saat diamnya,
Hati yang terus bersabar menunggu kita luang waktu.

Continue reading

My Father Did (2)

Jadwal ini masih menempel di lemari.
Saya tahu kekaguman saya pada beliau tidak akan ada habisnya.
Semangat menuntut ilmu,
Selalu menjadwalkan waktu untuk membaca dan mengkaji kitab, koleksi bukunya selalu bertambah, bahkan sekarang koleksi buku beliau sudah mulai membahas isu-isu terkini.

IMG_20170531_222501_394.jpg
Terkadang malu bila melihat beliau duduk bertafakur di meja kecilnya,
Membuka tiap lembaran,
Mencatat yang beliau anggap penting,
Senyap.
Seolah ada pembatas antara beliau dengan dunia sekitarnya. .
Sewaktu kecil, biasanya saya akan mendekati beliau, menanyakan hal-hal yang tidak penting, dan pasti akan beliau jawab.
Sekarang, rasanya melihat beliau dalam posisi seperti itu, segan untuk mengganggu. .
Saya sangat bersyukur, rasa ingin tahu beliau turunkan ke diri ini. Walaupun soal keistiqomahan masih harus meneladani beliau. .
Satu hal yang paling saya ingat dari pesan beliau sewaktu saya SD, duduk di samping beliau yang sedang membaca, “orang yang rajin baca buku pasti lebih bisa mengontrol emosi daripada yang tidak rajin.” .
Ah. Saya selalu ingin seperti beliau, Bapak juara satu seluruh dunia.

Sebuah Petualangan

Beberapa orang di luar sana mungkin berpendapat bahwa menikah akan menghentikan petualangan yang bisa dinikmati oleh seseorang.
Sungguh, mereka salah.

IMG_20170527_092343_341.jpg
Menikah justru membawa seseorang menikmati suatu petualangan yang lebih seru, lebih menantang.
Dimana hal tersebut meminta setiap komitmen yang kita miliki, membutuhkan keseriusan yang kita punya, dan segala hal yang dibutuhkan untuk menjajaki tiap undakan, turunan, tikungan dalam petualangan ini.
Susah? Ya.
Menantang? Banget.
Terkadang harus rela berdarah dan berpeluh sambil meneteskan air mata.
Tapi tak perlu khawatir.
Petualangan ini tak kita jelajahi sendiri.
Berbeda dengan petualangan lainnya, kita ditemani oleh belahan hati yang Allah pilihkan untuk melengkapi.
In sya Allah, ada yang melegakan dada yang sesak.
Ada yang mengusap peluh yang jatuh.
Ada yang mau diajak bersabar di saat kita bersama menerima musibah.
Ada yang memahami di saat yang lain tak mau mengerti.
Sungguh, petualangan bernama pernikahan berbeda dengan petualangan yang lain.
Tidak ada batasan.
Tidak ada akhir.
Dua jiwa,
Berpetualang bersama,
Mengarungi bahtera,
Bersama.
Berharap kaki menginjak surga
Yang sama. – 1 Ramadhan 1438 H

Rahasiakan Pinangan, Umumkan Walimah

Beberapa pekan yang lalu ada yang meminta saya membantu mendaftar nama kawan-kawan lengkap dengan gelarnya untuk keperluan undangan walimah. Ketika saya tanya siapa calonnya, kawan saya ini memilih merahasiakannya, “Belum boleh dipublish, masih lumayan lama.” Ah… I see. I just shut my keponess down. Sudah ada kabar gembira kayak gini saja bikin saya senang. “Rahasiakanlah pinangan, umumkanlah walimah” (HR. Ibnu Hibban 1285, Ath-Thabarani I: 1/69, dan lainnya)
Untitled
Memang itulah yang dianjurkan oleh RasuluLlah. Berbeda dengan yang sedang populer sekarang. Acara lamaran atau pinangan kayaknya sama meriahnya dengan acara walimah. Sampai ada yang sengaja sewa gedung dan lain-lain.

Continue reading

Jodoh Itu

Bukan suatu hal yang krusial, dengan siapa kita memilih mengarungi bahtera.
Yang terpenting adalah karena siapa kita mengarunginya.
Cinta yang dimulai karena cinta pada Sang Maha Pencipta akan selalu bertahan, di atas segala kondisi apapun. Karena yang kita harap adalah ridho-Nya.

IMG_20170402_181123_262

Sedang cinta karena makhluk, terkadang tidak akan selamanya bertahan sebagaimana tidak kekalnya apa yang ada pada diri orang yang kita cintai.
Bukankah perangai bisa berubah?
Bukankah fisik juga tidak akan selamanya rupawan?
Terlebih harta yang hanya titipan?
Lagi dan lagi,
Sungguh bukan hal yang krusial dengan siapa. Terlebih penting karena siapa kita menikah.
Lalu nikmati bagaimana Allah berikan setiap kejutan,
Saat kita husnudzon bahwa Dia telah siapkan jodoh terbaik,
Saat kita percaya pada janji-Nya,
Tidak akan pernah ingkar,
Tidak akan pernah aniaya.

Aku dan Kamu

Aku dan kamu bukanlah sepasang insan yang selalu menghabiskan waktu untuk saling mengagumi.
Aku dan kamu bukan sepasang insan yang selalu mengisi waktu luang dengan menyenangkan.
Aku dan kamu terkadang saling membenci.
Aku,
Membenci sikap diam dan tertutup yang selalu hadir saat sikapku tidak sejalan dengan maumu.

IMG_20170405_014220_089
Kamu,
Membenci ketidakpekaan dan ledakan emosionalku yang tidak terkendali.
Sayang, aku tahu aku bukanlah suami yang baik.
Sama halnya seperti hidup kita yang tidak selalu berjalan dengan baik.
Kadang kita tertawa lepas, kadang kita tertegun serius menghitung pundi-pundi yang tersisa dengan penuh was-was.
Kadang kita menikmati hidangan yang memuaskan, kadang kita membuka lemari es dengan helaan nafas, memanfaatkan apa saja yang tersisa di sana.
Namun, aku bersyukur.
Allah menakdirkan aku dan kamu,
menjadi kita.
Dengan segala ketidakpastian yang aku tawarkan,
kamu senantiasa menemaniku sehingga aku tidak sendirian.
Terima kasih, sayang.
Kamu ajarkan aku arti kesabaran,
Kamu ajarkan aku kerendahan hati.
Dan bersamamu, aku belajar mencintai.