Kenapa Menulis?

Tengah malam begini (lagi-lagi) menulis self-disclosure. Iseng-iseng saja, masih belum ketemu ide untuk video acara Halal Bihalal nanti, malah tidak sengaja baca artikel keren ini (Review Blog Hanny Kusumawati). Saya jadi terpikir, apa sebenarnya yang membuat saya menulis.

Untitled

Spot Menulis Paling ‘yahud’ : Ruang Wadek I FKIP UNILA

Pertama, mari lihat darimana saya menulis. Semenjak kecil, saya cenderung menuliskan apa yang saya rasa. Alah. Intinya adalah saya lebih memilih cara aman untuk berkomunikasi daripada harus menerima respon dari orang yang saya ajak bicara. Dulu, saya khawatir respon yang saya dapat negatif, hingga akhirnya saya memilih menulis ketidaksukaan dan kritik saya pada orang sekitar saya melalui tulisan.

Continue reading

Advertisements

Krisis Percaya Diri, Menulis Solusinya

Semenjak 2 minggu lalu, entah kenapa saya merasa ada yang salah dengan diri saya. Rasanya keluar jalur. Bukan ke hal yang buruk. Hanya saja terasa hambar.

Bangun pagi, beres-beres rumah, berangkat kantor, kerja, pulang sore, tidur, bangun lagi. Seperti biasa, tapi entah kenapa terasa hambar. Tak ada gairah.

Terkadang memang ada aktivitas yang menambah semangat, diajak jogging, keliling Bandarlampung. Tapi setelah balik ke rumah, kembali hambar.

I keep asking my self, what’s wrong with me?

Ruhiyah turun? Alhamdulillah, target yaumiyah kejaga. Tapi entah kenapa, hambar aja gitu. Sampai suatu sore, Naufal satunya posting tentang Impostor Syndrome (link nya di sini). Saya jadi paham bahwa yang saya alami adalah kehilangan kepercayaan diri.

Setelah membaca postingan tersebut, dan mencocokan dengan apa yang saya rasakan, saya tahu ternyata yang saya rasakan beberapa waktu ini adalah suatu keadaan dimana semua yang saya lakukan hanyalah sebuah kebohongan belaka, semua yang saya kerjakan hanya kamuflase, semua yang saya dapatkan hanya keberuntungan semata,

I’m good for nothing.

Continue reading