Tentang Kesalahan

​Sungguh betapa indahnya hidup bila kita tidak pernah melakukan kesalahan, tak pernah menyakiti orang lain, tidak pernah membuat orang lain kecewa. 

Tapi hidup yang seperti itu, bukanlah hidup yang sebenarnya. 

Kita pasti melakukan kesalahan, sengaja atau tanpa sengaja, melukai bahkan membuat orang lain kecewa. 

Karena itulah kita, manusia dengan segala kelemahannya. 

Namun, jangan patah semangat. 

Setiap kesalahan yang kita perbuat, setiap hati orang yang kita kecewakan, akan menjadikan kita pribadi yang lebih bijak, lebih peduli. 

Bahwa setiap kesalahan itu akan menjadi pengalaman berharga bagi kita, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. 

Bahwa kita akan belajar dari setiap kesalahan yang telah kita perbuat. Perlahan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. 

Bahwa tidak ada harapan yang pupus, tidak perlu ada rasa kecewa dan patah semangat
Tegak.

Perbaiki. 

Berubah. 

Menjadi lebih baik. 

Kemudian istiqomah. 

Selalu ingat, ada doa yang senantiasa terlantun, dari orang-orang yang menyayangi kita, dari orang-orang yang percaya bahwa kita bisa menjadi lebih baik lagi. 

Dan lagi.

Layakkah Kita Atas Pertolongan Allah?

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah..
Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah..

Awal semester baru, saya mendapat amanah jadi Homeroom Teacher Grade XII. Banyak khawatirnya ketimbang excited-nya. Karena melihat HRT tahun lalu yang rasanya begitu kerepotan menjadi HRT bagi siswa di tahun senior.

But, in the end, we can resist amanah that Allah gives to us, right?

Maka sayapun berusaha menghadirkan, lagi-lagi, sebaik-baik prasangka kepada Allah. Dan hari kedua sudah dapat kejutan. Kejutan yang luar biasa dari salah satu siswi saya yang membuat saya banyak merenung hari ini.

13680524_10208457263221128_7999667392407226657_n

Pagi tadi saya meminta mereka menuliskan jurusan yang mereka incar setelah lulus pada sebuah kertas, dan berencana memasang foto mereka di kelas. Semua siswa excited kecuali satu siswi yang malah terdiam. Saya tidak menghiraukan pada awalnya, karena saya tahu dia termasuk siswi yang pendiam. Sampai saat istirahat pertama, saya sedang asyik mengobrol dengan siswa yang lain, siswi ini masih terdiam. Seperti melamun. Sayapun memanggil namanya, eh, dia malah tertunduk.

Continue reading

21 Januari yang ke-25

00.13
Tak terasa waktu melejit begitu cepatnya, padahal baru saja saya mengantri makan, menginstal Corel, dan mencoba melayout buku kenangan asrama.
Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa juga, kalender sudah merubah angka nol di belakang 2 menjadi 1.
Ah… 21 Januari yang ke-25.
Saya menghentikan kerjaan sejenak, meraih handphone, merespon notif yang masuk, lalu bermonolog dalam hening, mecoba mengais satu persatu mozaik kehidupan yang telah saya lalui sampai saat ini.

Beberapa hal, saya sangat syukuri, bahwa Allah senantiasa memperhatikan saya melalui banyak hal. Dari kesempatan menjadi seorang guru, dengan segala baik buruknya, dengan segala manis pahitnya, dengan segala hal yang membuat saya yakin, bahwa inilah jalan saya untuk mengabdi kepada-Nya.

Continue reading