Senja Itu

Senja menjadi saksi,

Setelah salam tersambut,

Pintu terbuka,

Ada senyum dibalik pintu,

Semanis irisan surga tersiram madu.

Manis sekali.

wp-image-1418359137jpeg.jpeg

 

Senja menjadi saksi,

Setelah adzan berkumandang,

Mushaf tertutup,

Ada jemari yang menghapus tetes air mata,

Seolah beban tersampaikan.

Lega sekali.

Continue reading

Lagi, Lagi, dan Lagi

Pasangan hidup kita memberikan keajaiban berlimpah kepada kita.
Dia dianugerahi Allah untuk memiliki kekuatan
yang membuat kita menyenangi senyumnya,
suaranya,
aroma tubuhnya,
dan tingkah lakunya.
Dia mempunyai kekuatan untuk melenyapkan kesepian.
Dia menjadikan hal yang biasa dalam hidup menjadi istimewa.
Dia merupakan pintu kita menuju surga,
di sini,
di dunia.
Dan saat jauh,
Seolah ada bagian dari hati yang kosong.

img_20161227_134749

Kita dan Lompatan-Lompatan Peran

Kubangun dengan cinta,
Kau rawat dengan doa,
Demikianlah kita,
Berumah di tangga,
Menuju surga – Fahd Pahdepie

Tengah malam begini, akhirnya sempat juga mengisi kembali blog. Semenjak tahun ajaran baru dimulai, amanah semakin bertambah. Inipun baru selesai merapikan dekorasi kelas untuk pagi ini.

AlhamduliLlah, setelah resmi menjadi HRT untuk kelas XII (yang AlhamduliLlah mantap banget rasanya), awal masuk mendapat kepercayaan untuk membuat video napak tilas 6 tahun Sekolah Global Madani bareng Principal (yang AlhamduliLlah, pesan yang ingin saya sampaikan via video tersebut tersampaikan), membantu Bu Diah untuk penelitian di bidang metakognisi (yang AlhamduliLlah, nambah ilmu lagi), jadi secretary untuk parents teachers confrence SMA Global Madani, menjadi committe acara resepsi pernikahannya Mas Fiki dan Mba Marlis minggu lalu, dan Sabtu ini jadi panitia pelaksanaan mabit untuk kader kampus se-Bandarlampung.

Dengan semua kegiatan semenjak Juli lalu, saya tahu yang paling dirugikan adalah istri saya. Kegiatan yang mengantri tersebut terpaksa membuat saya membawa pekerjaan ke rumah, begadang sampai pagi. Bahkan sampai beberapa hari tidak tidur. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop dan hape, ketimbang ngobrol berdua, kayak di awal-awal bulan pernikahan dulu.

Celakanya, saya malah kepikiran kalau istri saya pasti mengerti dan mau menerima segala kesibukan tersebut. Ya, dia memang mengerti. Sampai pada suatu hari, saya tidak tahu kalau istri saya tidak masuk sekolah karena sakit. Sampai pada suatu hari, istri saya mendiamkan saya sampai  seharian, gegara dia melihat nama saya sebagai ketua pelaksana Homestay SMA yang pelaksanaanya tepat dengan HPL anak pertama kami.

IMG_20160817_131804

Continue reading

Sungguh, Menikah Bisa Meningkatkan Kualitas Hidup

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri ( bujangan ) di antara kalian dan orang-orang shaleh diantara para hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka dalam keadaan miskin, Allah-lah yang akan menjadikan kaya dengan karunia-Nya [ QS. An-Nur (24): 32]

Bukan bermaksud membuat baper para jomblo-ers. Bukan bermaksud loh. Tulisan ini dibuat untuk memberikan pencerahan kepada kawan-kawan saya yang betah dengan kejomblo-annya, atau yang sedang memperbaiki diri dalam rangka menjemput jodoh. Tulisan berdasarkan pengalaman katanya lebih terasa otentik. Hehehe…

RN.jpg

Menikah itu asyik

Sudah dua hari ini saya tidur di ruang depan. Bukan karena marahan dengan istri loh, tapi karena saya yang meminta izin kepada istri untuk menulis. Kasihan blog ini sudah lama tidak di-update. Kalau sudah izin seperti itu, biasanya si cinta mengiyakan sambil menunjukkan muka malesnya.

Lah, kenapa harus izin? Kalau sudah menikah, ada hak istri kita pada setiap hal yang kita miliki, salah satunya waktu. Kita tidak bisa lagi bertindak semena-mena. Istilah “semau gue mau ngapain aja” sudah tidak berlaku setelah menikah. Terkekang dong? Nggak-lah. Ini artinya kita belajar bertanggungjawab dan berkomitmen.

Continue reading

Tentang Sebuah Proses …

Kebahagiaan paling tinggi adalah kenyataan bahwa kita dicintai, meski bagaimanapun keadaan kita.– Unknown

4 Januari 2016

Seminggu telah berlalu, rasanya melihat senyummu di balik pintu, membuat dinginnya pagi ini tidak terasa. Berat untuk memulai kembali aktivitas dan berpisah.
“Apa lagi A yang ketinggalan?”
“Helm Yang”
“Ah, pasti pengen ketemu lagi kan?”
Saya hanya tersenyum menerima helm yang kamu berikan.
“Aa berangkat ya yang”
Ah.. Beda rasanya, sungguh beda antara berangkat kerja dua minggu yang lalu dengan hari ini. Sungguh beda. Sepanjang perjalanan saya terus berpikir, is it a dream? am I dreaming?

Continue reading

Bukan Membeli Kucing dalam Karung

keep kalm and trust on taaruf

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena kamu percaya Allah sudah menentukan jodohmu, prihal menjemputnya itu pilihanmu, sesuai syari’at-Nya atau suka-suka, yang nantinya berdampak pada rasa saat bersama.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat kamu mengisi tiap bagian dari proposal nikahmu, tak henti kau berdoa dan menghadirkan sebaik-baik prasangka sambil bercerita dengan sejujurnya, tentang dirimu, keluargamu, dan harapanmu di masa yang akan datang.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat ada seseorang di luar sana meresepon proposalmu, dan ustadz memintamu beristikharah, lagi dan lagi kau berprasangka baik pada-Nya, hingga sambil mengucap bismiLlah, kau memutuskan untuk lanjut ke proses berikutnya.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat kesempatan pertama kali untuk melihat secara langsung, kau sendiri tidak dapat menerjemahkan arti dari dada yang bergetar, kaki yang lemas, serta bibir yang tak henti berucap, “Masya Allah…” sepanjang perjalananmu pulang.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh. Karena lagi-lagi kau istikharahkan pilihanmu. Hingga kaupun kembali mengucap bismiLlah untuk lanjut ke proses selanjutnya.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena tiba giliranmu untuk bertemu dengannya, berkesempatan untuk bertanya ini-itu, kau tidak dapat menerjemahkan arti getar di dada, bibir yang kelu, dan mata yang tertunduk malu. Walau ustadz sudah berulang kali membolehkanmu untuk saling menatap.

 

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena kaupun tidak tahu keberanian darimana, hingga kau dapat berucap dengan mantap,
“Kita dipertemukan oleh dakwah, in sya Allah kelak akan saling mendukung dalam dakwah”

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saatnya tiba untuk mengkhitbah, kau berusaha dengan keras meyakinkan orang tuamu, kakak-kakakmu, handai taulan, bahwa inilah jalan yang ingin kau tempuh dalam menjemput jodoh.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat tiap rintangan, halangan, serta cobaan yang datang, kau menyerahkan semuanya kepada Allah. Menghadirkan sebaik-baik prasangka kepada-Nya dan kepadanya.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat pertama kau mengenal orangtuanya, kau banyak belajar tentang dia, tentang keluarganya, tentang kisah hidupnya, yang membuatmu semakin yakin, Allah punya rencana terbaik untuk dirimu, dan dirinya.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat kau merasa lelah berusaha, kau sadar bahwa ada di luar sana, ada yang juga ikut berusaha, sama-sama merindukan dalam doa, sama-sama menanti dalam taat.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena kelak saat akad sudah terlaksana, saat ijab sudah terucap, ada kejutan yang menanti, seseorang yang belum lama kamu kenal, menjadi bagian dari hidupmu, bersama saling mendukung menuju surga-Nya.

In sya Allah…

Continue reading

Dialog Ayah dan Anak

Malam itu, di sebuah masjid. Duduk termenung seorang pemuda, memandang ke arah mimbar. Sementara jama’ah yang lain sedang bertafakur dan melaksanakan sunnah rawatib. Menunggu muadzin mengumandangkan iqomah.

“Kunaon ngalamun kitu?”

Sang pemuda terjaga dari lamunannya, dilihatnya sumber suara itu, orang yang dia kenal selama hidupnya, orang yang paling dia hormati sepanjang hidupnya, sang Ayah.

Pemuda tersebut tersenyum, “teu nanaon Beh”

Sang Ayah berdiri di samping pemuda tersebut, mereka sibuk dengan pikirannya

“Allahu akbar.. Allahu akbar…”

Suara iqomah mengisi ruang utama masjid, pemuda tersebut berdiri menuju shaf pertama, sementara sang ayah tepat berada disampingnya.

Dalam shalatnya, sang pemuda berusaha khusyu’, karena yang menjadi lamunan tadi terus berada dalam benaknya, hingga untuk berkonsentrasi pada bacaan imam saja sulit.

Selepas shalat, hatinya semakin bergemuruh, ada kata yang ingin tersampaikan, ada hasrat yang ingin disampaikan, ada niatan yang ingin dimengerti, oleh pria yang duduk disampingnya. Sang pemuda melafalkan doa yang diucapkan pemuda kahfi, berulang-ulang.

Selepas rawatib, dia mengulurkan tangannya pada sang ayah, berharap salim takzim yang dia lakukan bisa membuat Sang Ayah paham apa maksud dalam hatinya, lewat osmosis.

Ah… Harus malam ini.. harus malam iini disampaikan, sepanjang jalan menuju rumah dia terus bergumam dalam hati.

Continue reading