Tentang Ican dan Ayun, Duo Unik di Kelas

Setelah beberapa waktu lalu saya mem-posting cerita tentang Evi, saya mendapat complaint dari beberapa siswa di kelas. Mereka juga ingin dibuatkan postingan yang menceritakan diri mereka masing-masing. Dan itu membuat saya pusing karena itu artinya saya harus membuat 21 cerita berbeda berdasarkan pribadi mereka.

Sayapun bingung harus memulai dari siapa. Hingga tadi sore saya melihat sebuah foto dari dua siswa paling unik di kelas XI MIPA 2, dua siswa yang biasa saya teriaki tiap hari, yang biasa saya marahi tiap hari. 2 siswa yang mengalami perubahan drastis dari awal semester.

2 siswa itu, Ayun dan Ican.

IMG_5534

Ayun dan Ican Saat Pembuatan Proyek Drama Bahasa Inggris

Ketika diminta menjadi HRT kelas XI MIPA 2, para guru mewanti-wanti saya tentang seorang siswa yang mempunyai kepribadian unik sewaktu kelas X, Muhammad Ihsan. Saya sempat tidak percaya ketika mendengar cerita mereka tentang Ican. Mana ada siswa seperti itu, sampai saya menyaksikan sendiri tingkah laku Ican.

Continue reading

Advertisements

Terkadang Kita Lupa

Alkisah, hiduplah seekor kelinci bersama dengan neneknya, berdua saja. Karena orang tua kelinci telah meninggal bertahun lalu, diburu pemilik tanah, itu cerita nenek, meninggalkan kelinci hanya dengan nenek, berdua saja di sarang sempit dekat danau.

Hidup berdua saja dengan nenek tentu membuat hidup mereka serba kekurangan. Hidup yang sangat sulit, bahkan untuk sekedar makan 3 kali sehari saja mereka kesusahan. Sangat kesusahan. Kelinci dan Nenek tak pernah mengeluh, mereka menjalani hari selalu dengan penuh syukur, dengan penuh semangat. Mereka tempuh hidup dengan penuh suka cita.

Satu hal yang membuat Kelinci bertahan dan terus ceria adalah dongeng nenek setiap menjelang tidur. Dongeng yang selalu memberikannya semangat untuk meraih mimpi, semangat untuk merubah nasibnya, semangat untuk menjadi seekor kelinci yang sukses. Bukan dongeng sebenarnya, itu kisah tentang paman kelinci nan jauh di pulau seberang sana. Kisah tentang paman kelinci yang telah sukses setelah mengalami berbagai macam kesulitan dalam hidup.

Nenek selalu bercerita bagaimana dulu paman kelinci semasa kecil. Dia giat bekerja, rajin beribadah, senang membantu orang tua. Bahkan nenek juga bercerita bagaimana paman kelinci bisa bersekolah, berjuang untuk bisa mendapat pendidikan seperti hewan-hewan lain yang lebih berada, berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari tetangga-tetangga.

Continue reading

Ayah….

Ayah, tak banyak hal yang ingin aku bincangkan..
Seperti yang biasa kau katakan,
“ayah diam bukan berarti setuju..”
Bertahun-tahun baru aku mengerti arti kata-kata itu,
Bertahun-tahun pula aku salah mengartikan,
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…..

Ayah, selalu saja aku berpikir, “apanya yang jadi fitnah?? Dan siapa yang ngefitnah..??”
Tiap kali kau berkata, “Ayah tidak mau ini menjadi fitnah..”
Di saat aku merengek, memelas, sesuatu yang tak bisa engkau usahakan..
Baru sekarang aku mengerti arti kata-kata itu,
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…

Ayah, pernah engkau mengajakku berkeliling, kau utarakan semua impian-impianmu
Harapan-harapanmu, untukku, untuk anak-anakmu,
Aku tak mendengarkan ayah, aku tak menyimak…
Tapi baru sekarang kurasa, semua itu begitu indah..
Impian-impian itu…
Harapan-harapan itu, begitu indah…
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku….

Ayah, pernah aku membenci,
Pernah aku membenci keputusanmu…
Saat kau tak mengabulkan keinginanku…
Tapi sepertinya yang lebih mengetahui aku adalah kamu, ayah…
Sungguh…
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku….

Ayah..
Aku menangis saat ini,
Menangis…
Teringat saat aku membuatmu kecewa,
Membuatmu mengusap dada,
Membuatmu…..
Ahhh…
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…

Ayah… begitu banyak yang engkau korbankan..
Begitu banyak…
Dan aku hanya bisa membuatmu kecewa,
Bahkan sampai saat ini pun,
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…

Ayah..tak pernah sedikit pun kudengar engkau mengeluh..
Tek pernah…
Sementara aku,
Tak bisakah aku setegar dirimu ayah..???
Aku ingin setegar dirimu…

Ayah… tak pernah tenang hatiku sampai kau berkata, “ayah selalu mendoakanmu”
Atau saat ku memandang matamu yang menyejukkan itu…

Ahh ayah,
Keikhlasanmu,
Ketegaranmu,
Adalah inspirasiku…

Pendidikan Karakter Hanya Tugas Guru?

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka . Oleh sebab itu hendaklah bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (An-Nisa’ : 9)

Sungguh bahasan yang luar biasa diskusi wawasan keislaman malam ini. Diskusi yang biasa diadakan di Al-Furqon pada malam selasa dan jum’at kali ini membahas tentang khoiru ummah, ummat-ummat terbaik, dengan mengambil contoh bagaimana menjadi ummat-ummat terbaik seperti keluarga Ibrahim a.s dan Zakariyya a.s.

Ustadz kala itu, saya lupa namanya, menceritakan bagaimana Siti Hajar yang ridho ditinggalkan antara Shafa dan Marwah bersama bayi Isma’il karena perintah dari Allah. Isma’il yang ridho disembelih oleh ayahnya karena perintah dari Allah. Dan Zakariyya yang senantiasa percaya bahwa kelak dikaruniai putra walau dalam keadaan umur yang tidak muda dan istri yang mandul. Itulah ummat-ummat terbaik, yang senantiasa percaya bahwa Allah sebaik-baik penolong, bahwa Allah sebaik-baik tempat meminta.

Pertanyaannya kemudian, pendidikan seperti apa yang bisa menghasilkan ummat-ummat dengan karakter demikian?

Continue reading