Menjadi Keluarga Penghafal al-Qur’an

Ahad ini berkesempatan untuk bersilaturahim ke rumah Pak Agus Sugianto, ketua MGMP Fisika Kota Bandar Lampung, untuk menyelesaikan laporan. Setelah muter-muter Bataranila karena Neng Gugel Mep salah kasih arah, akhirnya ketemu juga rumah beliau. .
.

Pertama datang sudah dibuat ‘wow’, beliau membuka bimbingan Tahsin dan Tahfizh di rumah. Saya langsung tanya saja karena penasaran, “Iya, kebanyakan ibu-ibu yang datang belajar. Uminya (istri beliau) yang ngajar.” .
.
2017-07-30 10.21.29 1.jpg
Oh.. I see.. Saya ngangguk-ngangguk. Teringat cerita Umi Rita, tentang anak-anak Pak Agus yang fokus disekolahkan untuk menjadi hafizh. Kami lalu fokus pada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. .
.

Selepas rehat untuk shalat dan makan siang, kami mengobrol ringan. Beliau menceritakan kondisi mereka satu persatu. “Anak pertama saya sudah hafizh 30 Juz saat kelas 1 SMA, sekarang masih kuliah di LIPIA, sudah menikah dan punya 2 anak. Alhamdulillah, waktu semester 3 dipersunting alumni LIPIA juga; Anak kedua saya kelas 2 SMA pindah ke Jogja, merampungkan hafalannya di sana. Sekarang kuliah di STIA Jogja; Anak ketiga saya sudah hafizh juga sekarang kuliah di DF, tadinya di FISIP Unila, tapi karena kami merasa kualitas hidupnya menurun, kami pindahkan kuliahnya, walau di FISIP prestasinya bagus; Anak keempat saya sudah sekitar 12 Juz hafalannya, masih mondok di Bangka; Anak kelima saya masih mondok di Jogja, belum rampung juga hafalannya; Yang bungsu masih SD, kami sekolahkan di SDIT deket sini.” .

Saya sedikit mangap, terkagum, untung nda kemasukan lalet. Tanpa basa-basi, saya langsung tanya gimana cara beliau mendidik keenam anaknya. Beliau tertawa. “Ya, kalau trik dan tipsnya gimana ya. Pokoknya suami dan istri harus punya azam yang sama untuk punya anak yang hafizh. Karena kalau cuma salah satu, bakal berat. Entah itu nanti anaknya gak betahan atau gimana. .
.

Yang kedua, kita mesti menjaga rezeki kita dari yang haram. Jangan sampai kita menafkahi anak-anak kita dari sumber yang tidak jelas asalnya. Ya, saya juga tidak tahu seberapa bersih nafkah yang saya dapat. Hanya saya berusaha untuk menjaga jangan sampai yang haram.” Continue reading

Advertisements

Egosentris

Sebagai orang tua, kita ingin menjaga anak kita untuk selalu berada dalam pergaulan yang baik, tidak terpapar oleh lingkungan yang buruk, dan mampu bersosialisasi tanpa terjerumus ke dalam hal-hal yang menurunkan derajat mereka. .
.

Namun, kita sadar bahwa penjagaan kita itu tidak paripurna dan berlangsung selamanya. Ada masa dimana kita tidak bisa menjaga anak kita secara terus menerus, sehingga yang bisa kita harapkan adalah kemampuan mereka sendiri untuk menjaga diri dari pengaruh lingkungan yang buruk. .
.
2017-07-28 08.59.18 1.jpg
Ya, kita harus mengajari mereka ‘berenang’ atau ‘membuat’ perahu sendiri agar tidak tenggelam, daripada terus membangun bendungan atau tembok yang kita tahu lama-kelamaan akan amblas oleh derasnya arus globalisasi. .
. Continue reading

Doa

Doa merupakan hal yang mendasar yang harus selalu dilakukan oleh kita sebagai orangtua. Karena doa orangtua untuk anaknya selalu dikabulkan oleh Allah. .
.

Dengan doa, rasa sayang kita pada anak-anak akan semakin tumbuh, rasa cinta kasih akan makin berkembang di hati kita, sehingga akhirnya akan timbul kekuatan untuk terus menjalankan amanah sebagai orangtua dengan sebaik-baiknya. Karena kita yakin, Allah memberikan amanah tersebut bukan karena ‘kita sudah saatnya jadi orangtua’ atau bahkan ‘kebetulan’ semata. .
.
Foto Ahmad Naufal Umam.
Inilah sunnah RasuluLlah dalam mendidik anak, mendoakan kebaikan bagi mereka. Berdoa agar Allah memberkahi tiap tahap hidup mereka dengan amalan-amalan kebaikan. .
.
Continue reading

Mudik Pertama Azalia

Saya dengan istri pernah membaca sebuah artikel tentang waktu yang baik untuk menanamkan sugesti adalah saat seseorang akan memasuki alam bawah sadarnya. Salah satunya saat menjelang tidur.
Jadi, malam sebelum berangkat. Ummu Aza mengingatkan saya untuk sounding kepada Aza yang akan tidur, bahwa kita akan menempuh perjalanan yang lumayan jauh dan meminta Aza untuk tidak rewel sepanjang perjalanan.
Sayapun melakukan hal tersebut.

IMG_20170530_082807_428.jpg
Besoknya, bis yang ngetem 1 jam lebih, 2 jam perjalanan bis Rajabasa-Bakauheni, 2 jam penyeberangan, 1/2 jam angkot Merak-Cilegon, 1 jam lebih angkot ngetem, 3 jam perjalanan angkot Cilegon – Labuan, total hampir 10 jam perjalanan naik turun kendaraan menuju Labuan, Aza sama sekali tidak rewel. Malah penumpang-penumpang yang bareng kami senyum-senyum melihat muka Aza yang antusias dan ramah, tak sedikit yang mengajak ngobrol Aza. Sampe pengamen di bis pun ngajak ngobrol. 😂😂😂 AlhamduliLlah

Malam sebelum pulang kamipun kembali sounding saat Aza akan tidur.
AlhamduliLlah.
Rute yang sama, lama perjalanan hampir sama, lagi-lagi tidak rewel. Bahkan saat angkot Labuan-Cilegon ugal-ugalan, jojong we si neng teh tidur lelap, padahal uminya mah udah was-was.
Sampe lagi di Bandarlampung, baru dah manjanya keluar. Rewelnya dirapel. Barangkali karena capek.
Semengerti-mengertinya Aza dengan sugesti kami, she’s still a 7 months old baby after all. But, we’re so grateful to have this lovely little toothless traveller who really understand her parents’ condition.

Parents Bonding

Beberapa hari lalu saya membaca tentang pentingnya emotional bonding antara anak dengan orangtua, dimana bonding ini akan membantu saat anak mengalami masa-masa kritis dalam hidupnya: pra-sekolah, pra-pubertas, pubertas, pra-nikah, dan nikah.
Pada masa kritis tersebut, anak memerlukan suatu dukungan dan nasehat dari orang tuanya, dan seperti kita ketahui orang tua tidak akan selalu membersamai mereka 24 jam.

IMG_20170430_215623_342
Maka bonding ini akan menjadi penjaga mereka. Saat mereka butuh teman bicara atau nasehat, orangtunya yang mereka cari. Saat mereka berada di saat-saat ‘berbahaya’, nasehat orangtuanya yang diingat.
Ingat kisah Yusuf a.s saat digoda? Kalau tidak punya bonding dengan orangtuanya pasti bakal terjerumus. Karena dikisahkan pada ayat ke-24 surat Yusuf, beliau juga punya hasrat pada istri Al-Aziz.

0-2 tahun adalah masa yang paling pas untuk mulai membuat bonding ini.
Banyak hal yang bisa dilakukan, diantaranya memandikan, memakaikan pakaian, mengganti popok, tilawah, membacakan cerita, memijat, mengajak bicara dan segala interaksi yang bisa membuat bayi makin familiar dengan orangtuanya.
AlhamduliLlah,
Berdasarkan pengalaman pribadi, hal-hal ini membuat Aza makin nempel sama Abahnya. Kalau denger suara saya langsung nengok, kalau saya tidur suka tarik-tarik baju mengajak main, kalau ditinggal tanpa pamit pasti nangis, dan sekarang tingkahnya hampir sama kayak Abahnya. 😂😂😂

Qaulan Sadida

Kebiasaan mengajak Azalia getting involve dalam aktivitas kami sudah kami lakukan semenjak dia di dalam kandungan.
“Abah berangkat dulu ya dek.”
“Umi shalat dulu ya dek.”
“Nanti tilawah sama Abah ya dek.”
Biasanya akan ada respon berupa tendangan atau gerakan di dalam perut uminya.

Kebiasaan ini berlanjut sampai sekarang. Biasanya ketika Azalia sedang ‘ngajak’ main atau ngobrol, terus saya pamit, “Abah ke mesjid dulu ya Dek.” Dia akan anteng sampai saya kembali pulang ke rumah.
Begitu juga jika uminya pamit, “Umi shalat dulu ya.” Azalia yang tadinya ‘aktif’ akan diam menunggu uminya shalat.

Kejadian-kejadian seperti ini banyak terjadi dan saya mikirnya, “Ah.. Cuma kebetulan saja. Azalia belum paham.” Namun, kejadian tadi sore membuat saya recall semua kejadian sebelumnya dan berkesimpulan bahwa pemikiran saya salah.

16406675_10210154330406747_9141404414494545194_n

Jadi ceritanya tadi pagi kami sepakat bahwa Azalia akan stay dengan saya saat Uminya hadir agenda pekanan. Tapi sebelum uminya berangkat, kesepakatan tadi batal, karena khawatir kalau Azalia bakal menangis. Azalia akan ikut uminya seperti pekan-pekan sebelumnya.

Continue reading

Arti Sebuah Nama

Dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka.” (HR. Muslim no. 2135)

Masih dalam suasana bulan syawal, dan oleh-oleh dari lebaran tahun ini adalah banyaknya pertanyaan dari para kerabat,
“Istrinya udah hamil belum?”
“Sudah berapa bulan?”
“Laki-laki atau Perempuan?”

Saya dan istri sebenarnya tidak mempermasalahkan perihal gender, yang terpenting kelak si dedek (panggilan kami berdua buat bayi dalam perut istri) lahir dengan sehat dan selamat, dan istri saya juga begitu.

10665946_10203861164801540_1379701871622080970_n

Ilustrasi dari Anime Barakamon

Namun, sedikit banyak agak kepikiran juga, karena beberapa kerabat sudah ada yang ‘tag’ mau kasih ‘sesuatu’ buat si dedek, dan itu berdasarkan gender. (AlhamduliLlah, belum lahir saja sudah banyak yang bahagia). Hingga  kami berandai-andai, gimana kalau cewek, gimana kalau cowok, yang akhirnya jadilah kepikiran soal mempersiapkan nama.

Continue reading