Dalam Ramadhan, Kita Belajar

Dalam Ramadhan, kita belajar
Tentang bagaimana mengatur persepsi tentang apa arti rejeki dan takdir yang telah Dia tuliskan.
Berulang kali, saat diri tak banyak meminta, tak banyak memohon, bersyukur dengan yang telah ada, Allah terus menganugerahkan rejekinya dari sudut-sudut yang tidak terduga.
Maka benarlah, rejeki itu Dia Yang Maha Mengatur, tugas kita adalah taat.

IMG_20170625_132343_356.jpg

Dalam Ramadhan, kita belajar
Tentang bagaimana menempatkan dzon yang baik di atas segalanya
Tentang arti berprasangka baik pada setiap hal.
Sungguh, terkadang asumsi-asumsi yang hadir dalam pikiran menjadikan diri lupa melihat segalanya dalam suatu bingkai yang utuh, see the big picture.
Dan berulangkali Allah ingatkan, bahwa apa yang dihadapi akan sesuai dengan prasangka kepada-Nya.
Maka benarlah, Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Continue reading

Advertisements

Kenapa Harus Mencoba I’tikaf di Al-Wasi’i

Sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan merupakan waktu yang sayang bila dilewatkan begitu saja. RasuluLlah melipatgandakan ibadah-ibadahnya di malam-malam terakhir ini.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a : β€œSelama sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, Nabi (SAW) akan memperketat ikat pinggang dan menghabiskan malam dalam ibadah. Dia juga membangunkan keluarganya..” (Al Bukhari)

image

Suasana I'tikaf Malam Ke-23 Ramadhan

Continue reading

Kembali di Sini, di Al-Wasi’i

Setahun lalu,
kita ungkapkan harapan dan impian,
Tentang menggenapkan setengah diri,
Tentang lanjut studi,
Tentang beasiswa,
Tentang semua mimpi,
Menjadikannya lipatan yang rapih dalam doa.

Setahun berlalu,
Kita kembali di sini.
Mensyukuri karunia Allah,
Yang dengan kuasa-Nya,
telah membuka lipatan tersebut,
Menjadikannya nyata.
Ya, semua lipatan doa itu nyata hari ini.

image

Continue reading

Kisah Mudik dan Taraweh 0.92 RPM (Raka’at Per-Minute)

Ketika melihat pertama kali postingan seorang kawan di path, tentang solat taraweh yang begitu cepatnya, saya sedikit kurang percaya. (Punten Adi Hehehe) Tapi hal yang membuat saya tersenyum adalah kawan tersebut membuat perbandingan antara jumlah raka’at dengan waktu yang dibutuhkan. Hingga muncul satuan baru, RPM, Rakaat Per-Menit. Hehehe…

Saya juga kepikiran, keren nih kalau ada percakapan kayak gini.
“Bro, lu taraweh dimana?”
“Di kampung sebelah bro, 1.2 RPM, lumayan cepet.”
“Wah kalah sama tempat gue bro, di sana 1.56 RPM. Keren kan bro?”
“Widih.. Nanti malem gue solat di tempat lu lah.”
“Yo’i Ma Men.”

Nah kan, absurd banget pasti. Hahaha

Jadi ceritanya, saya mengantar istri mudik ke kampung halaman. Mudik yang sudah kami agendakan dari sebulan sebelumnya, setelah rundingan penuh darah, air mata, dan keringat, akhirnya ditemukan formula khusus mudik tahun ini, yang in sya Allah safe buat semua pihak.

image

Rehat di Masjid Istiqlal, Bandar Jaya

Continue reading