Bimtek Guru Fisika Provinsi Lampung

AlhamduliLlah.
Diberikan kesempatan untuk belajar mewakili MGMP Fisika Kota Bandarlampung dalam Pelatihan TIK Berbasis Internet untuk guru fisika se-Lampung.

Hari pertama dilatih menggunakan fitur yang ada di Rumah Belajar dan TV Edukasi, dua portal pembelajaran yang disediakan oleh Kemdikbud dan masih belum optimal dimanfaatkan oleh guru-guru. Saya sendiri baru ‘ngeh’, ternyata lumayan lengkapdan rapih.. Jadi nda usah lagi pusing-pusing nyari media dan sumber pembelajaran lewat mbah Google.

Hari kedua diajari gimana serunya memakai smartphone untuk membuat video pembelajaran. Dan memanfaatkan fitur Google Form untuk membuat ujian berbasis online.

Dua hari yang membuat bersyukur karena bisa belajar banyak. Lebih bersyukur lagi ketika saya tahu bahwa saya peserta paling muda dan satu-satunya guru Non-PNS.17553872_10210592859689705_3977961039590213517_n

Jalan ini

Saya membayangkan diri saya bertahun lalu; polos, dekil, tidak pintar-pintar amat, dan bercita ingin menjadi dokter. Hingga saya dihadapkan dengan kenyataan bahwa menjadi tenaga medis itu bukan perkara mudah. “Jadi guru fisika saja.” Maka bertahun saya habiskan untuk belajar menjadi guru. Tapi passion itu belum muncul juga. Hey, it’s okay. Kelak ada masanya gairah itu muncul, lagipula mengikuti apa kata orangtua tidak ada ruginya.
Sampai tiga bulan pengalaman bermukim di Cahyou Randu. Di antara kebun karet dan singkong, menenteng triplek whiteboard yang dibagi 6, dari dusun ke dusun, mengajar IPA dan matematika untuk anak sekolah dasar, setiap sore. Gairah itu muncul.
Perjalanan Cahyou Randu ke Pagar Dewa, di antara perkebunan sawit dan tanah-tanah kosong. Jalan yang berbatu. Gairah itu makin menyengat, “Di Indonesia pasti masih banyak daerah-daerah yang susah aksesnya, bagaimana anak-anak di sana belajar?” Allah menjawab dengan memberikan pengalaman langsung. Satu tahun hidup di selatan Indonesia, merasakan sendiri perjuangan pendidikan di sudut nusantara. Di antara indahnya alam ciptaan Yang Maha Kuasa, saya belajar banyak hal; toleransi, budaya, bahasa, dan lainnya. Hingga gairah itu terus menyengat, menunjukkan arti dari pengabdian yang sebenarnya.

IMG_20170313_213050_543
Gairah itu membawa saya ke Tanah Pasundan, di antara Rusunawa, Gedung Jica, Jalan Belitung No 8, untuk belajar kembali, untuk memahami kembali esensi menjadi seorang guru. Hingga gairah itu membakar hati, hingga air mata meleleh, bahwa menjadi guru menghadirkan tanggung jawab moral yang besar.
Gairah itu masih ada sampai saat ini, terkadang redup, terkadang menyala terang.
Saya tahu, ketika saya terduduk sebentar menunggu siswa mencatat, melemparkan lelucon garing, yang biasanya direspon dengan tatapan bermakna, “Apa sih, Bah?” Atau ketika saya terduduk mendengarkan curahan hati dan celotehan mereka.
Saya tahu, saat-saat seperti itu menjadikan gairah itu semakin membara.
Saya ingin terus seperti ini, memberikan yang terbaik yang saya bisa kepada siswa. Mendidik sekaligus terdidik. Memberi teladan sekaligus meneladani.
Menjadi guru seutuhnya.
Yeah, I wanna be remembered as Naufal who teaches.

Bersyukur dan Bersabar

Nak,
Allah selalu punya rencana terbaik bagi kita.
Bersyukur dan bersabar.
Karena apa yang telah Allah takdirkan untuk kita tidak akan keliru kepada orang lain, begitu sebaliknya.
Bersyukur dan bersabar.
Saat mendapatkan anugerah, ataupun
Saat ditunda pengabulan doanya.
Tidak perlu berlarut dalam kegembiraan,
Tidak perlu menepuk dada penuh kebanggaan,
Sehingga lupa hakikat bahwa setiap pemberian itu asalnya dari Allah semata.
Tidakkah terang bagi kita bagaimana Allah menenggelamkan Qarun bersama harta, yang dulu dia sombongkan berasal dari ilmu dan kemampuan yang dia miliki?

img_20161115_102444_hdr
Tidak perlu bersedih,
Tidak perlu meratap,
Sehingga lupa hakikat bahwa setiap ujian itu juga asalnya dari Allah.
Tidakkah jelas bagi kita bagaimana Ayyub Allah muliakan sebagai hamba yang paling taat, kerana kesyukurannya atas setiap cobaan yang Allah berikan?
Sungguh, Allah mempersiapkan yang terbaik bagi kita.

Generasi Ke-4

AlhamduliLlah, walau tidak dari awal mereka masuk, 2 tahun akademik saya membersamai mereka.
Dari Camp, Tour, sampai Homestay (yang terakhir ini cuma jemput saja hehehe).

62 nama, punya karakter berbeda, hanya saja saya yakin, tiap generasi punya ciri khas tersendiri, dan generasi keempat ini punya warna yang unik.
Yang terkadang membuat senyum-senyum sendiri kalau ingat bahwa ada saja tingkah yang mereka lakukan.
16708452_10210226087440628_4151012868267959044_n
Yang membuat kami bangga adalah mereka mengalami perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik.
Sungguh, kalau ditanya ridho atau nda terhadap mereka,
Saya 99.99% ridho, karena mereka sudah mau berusaha untuk menjadi pribadi yang sholeh-sholehah dan berbakti pada orang tua serta guru.
(Jangan tanya kemana 0.01%, anggap saja itu keselnya kami kalau mereka diminta segera turun untuk shalat masih suka ngobrol dan ngumpul di kamar mandi. Dulu benerin rambut, sekarang cuci muka berjamaah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)

AlhamduliLlah ‘alla kulli hal, in sya Allah generasi keempat ini generasi hebat, sama seperti Hokage keempat yang hebat (apa sih), sama seperti generasi sebelumnya, dan juga generasi setelahnya.

Maka Berlombalah dalam Kebaikan

Rabu pagi, selepas pelajaran Fisika, first break time. “Eh besok puasa yuk?” “Yuk, nanti malam kita sahur bareng.. Bangunin geh.” “Mau ikutan sih.. Bangunin ya.” “Iya kamu aja yang bangunin, saya susah bangun kalau malam.” Beberapa menit kemudian, setelah A minta dibangunkan oleh B. C jangan dibangunkan oleh D. E harus ditelepon, dan bla-bla-bla, akhirnya jadilah bagan jarkom kelas. Saya memperhatikan, dan memberi pendapat seperlunya. “Nanti sore share nope masing-masing di grup ya.” Sore harinya grup ramai, “telepon aja sih. Kouta saya mau abis.” “kamu bangun langsung aja nanti. Gak usah dibangunin.” “telepon ke no ibu saya aja ya.” Saya senyum-senyum saja, jadi silence reader.

16298970_10210142047539683_8536635935232540417_n
Menjelang subuh, notif penuh oleh obrolan. “Ada-ada aja, sahur kok pake sarden. Nanti haus loh.” “Si F udah bangun belom?” “Ngantuk oy” “shalat-shalat. Baru sahur.” Saya kembali senyum-senyum sendiri.
Pagi hari, “Kami semua puasa hari ini, Bah. Cuma D, W, gak puasa lagi udzur.”
“Saya gak sahur Bah, kirain semalam cuma tahajud aja.” Saya tersenyum, AlhamduliLlah.
Siang hari, para siswa tergeletak di belakang kelas, lemas. Para siswi beraktivitas as usual, lebih keliatan segar dari para siswanya.
Saat maghrib, “Selamat berbuka.” “Mantap.” Syukur dalam hati dan berdoa, semoga amal ibadah kalian diterima di sisi Allah, dan apa yang kalian hajatkan Allah kabulkan semua.

Social And Emotional Learning (SEL) Skill : Apa dan Mengapa?

Today’s students need to be equipped with SEL skills alongside traditional academic learning in order to compete in future markets. Teaching SEL skills will benefit the businesses, economy and society of the future as well as individuals. –Adam Shirley

Setelah bergulirnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun lalu, banyak terjadi pelonjakan jumlah tenaga kerja asing yang mulai mencari mata pencaharian di negara kita. Selain itu, dengan dibebaskannya visa kunjungan bagi beberapa negara juga menambah melonjaknya tenaga asing yang masuk ke negera ini.

Pelonjakan jumlah tenaga asing yang masuk sudah menjadi rahasia umum bagi kita, dimana media massa sudah banyak memberitakan bagaimana hal tersebut terjadi. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi negara kita. Alih-alih memperbanyak investor yang datang, hal ini akan mengakibatkan makin banyaknya pengangguran yang ada. Mengingat masih kurangnya kemampuan bersaing yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat kita.

equrfocfhn_dlunqjmebhgivqhatpsbj9v1onj2hw40

source : World Economy Forum

Continue reading

Doa

“Being someone favorite’s teacher is by far one of the best compliments you can ever receive.” – Jenealle Lynch

Sehari sebelum report day, saat kami sedang mempersiapkan ‘jualan’ untuk market day, salah satu siswi pamit tidak bisa mengambil raport pada hari itu.
“Ayah Ibu sibuk ya?”
“Pergi Umroh, Bah.”
“Hmm… Kamu gak ikut, Nak?”
“Ikut Bah.. Kami semua berangkat.”
“AlhamduliLlah. Ibadahnya yang bener. Doanya diperbagus. Mudah-mudahan keterima SNMPTN atau SBMTPN-nya. Doain juga temen-temennya.”
“Iya Bah. Abah mau didoain apa?”
“Doain semoga Abah juga segera ke sana.”
“Doain saya juga. Biar saya jadi pengusaha sukses. Nanti saya berangkatin Abah umroh.” Siswa yang lain nyeletuk. Saya tersenyum, dada rasanya bergemuruh.

15740848_10209802913461543_6179427520396460959_n
“Amiin.. In sya Allah.. Di kelas ini jadi orang sukses semua.”
Semua serentak mengamini.

Continue reading