Kenangan di Ujung Senja

“Sekarang ini anak-anak makin melupakan sejarah agama. Aku ingin suatu saat nanti, dari awal kedatangan di dunia ini seluruh anak muslim tahu, tiada kebanggaan yang berarti kecuali menjadi muslim.
Aku ingin mereka lahir sebagai muslim karena mereka memahami, meresapi, mengenal, menyentuh, meresakan, dan mencintai islam, bukan karena paksaan orang lain.
Dan aku ingin mereka tahu dalam setiap waktu, dalam masa depan mereka, mereka akan menemui orang-orang yang berbeda dalam hal kepercayaan, bahasa, dan bangsa.
Aku akan mengajarkan pada mereka bahwa perbedaan terjadi bukan karena Tuhan tidak bisa menjadikan kita tercipta sama.
Menciptakan manusia homogen iu bukan perkara sulit untuk-Nya.
Itu semua justru karena Tuhan Maha Tahu, jika kita semua sama, tidak ada lagi keindahan hidup bagi manusia.
Jadi, nikmatilah perbedaan itu.”
Ujar Fatma begitu mantap.

DSC02714.JPG

Sebuah paragraf dari 99 Cahaya di Langit Eropa, mengingatkan kembali betapa luar biasanya hidup setahun di Semau, Kab. Kupang, NTT.
Hidup menjadi minoritas muslim, praktik toleransi secara langsung, perbedaan budaya, bahasa, kepercayaan, namun tidak melupakan tugas sebagai seorang muslim; selalu berusaha menjadi agen muslim yang baik dimanapun berada.
Pengalaman hidup yang luar biasa, and I’m so grateful to have that experience.

Senja Itu

Senja menjadi saksi,

Setelah salam tersambut,

Pintu terbuka,

Ada senyum dibalik pintu,

Semanis irisan surga tersiram madu.

Manis sekali.

wp-image-1418359137jpeg.jpeg

 

Senja menjadi saksi,

Setelah adzan berkumandang,

Mushaf tertutup,

Ada jemari yang menghapus tetes air mata,

Seolah beban tersampaikan.

Lega sekali.

Continue reading