Kesadaran Seorang Guru

Ada keunikan tersendiri saat kita mengajar di sekolah yang tidak menjadikan kemampuan dan kecerdasan kognitif sebagai syarat penerimaan siswanya. Kita akan menemukan siswa dengan kemampuan dan kecerdasan yang bervariasi.

Jujur saja, sebagai guru fisika, saya akan senang bila menemukan siswa yang memiliki kemampuan matematis yang ‘kece’, memiliki kemampuan analisis dan berpikir yang mumpuni, serta mampu memahami konsep secara utuh. Dan tentu saja, saya merasa ‘greget hati’ bila menemukan siswa yang berkebalikan dengan hal tersebut.

Namun, di sinilah letak keunikannya. Sebagai guru kita harus memiliki kesadaran bahwa siswa memiliki kecepatan dan kemampuan balajar yang berbeda. Ada siswa yang bisa kita ajak berlari, ada siswa yang harus kita temani berjalan, dan ada siswa yang harus kita papah selangkah demi selangkah.

Capek? tentu saja. Tapi sungguh akan ada kebanggaan tersendiri saat ada siswa yang menunjukkan peningkatan, walaupun itu selangkah demi selangkah.

Lalu bagaimana jika kita menemukan siswa yang sulit sekali berubah dalam pelajaran kita? Jangankan berlari, berjalan saja sulit. Maka di sinilah dibutuhkan kesadaran yang kedua, bahwa siswa merupakan individu dengan kecerdasan yang berbeda. Masih ingat 8 kecerdasannya Gardener?

14519730_10209049444585292_7366240399838027981_n

Biarkan saya bercerita tentang Arya (siswa kedua dari kanan) dan Ihsan (siswa pertama dari kiri) yang memiliki tipe kecerdasan yang berbeda.

Continue reading

Layakkah Kita Atas Pertolongan Allah?

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah..
Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah..

Awal semester baru, saya mendapat amanah jadi Homeroom Teacher Grade XII. Banyak khawatirnya ketimbang excited-nya. Karena melihat HRT tahun lalu yang rasanya begitu kerepotan menjadi HRT bagi siswa di tahun senior.

But, in the end, we can resist amanah that Allah gives to us, right?

Maka sayapun berusaha menghadirkan, lagi-lagi, sebaik-baik prasangka kepada Allah. Dan hari kedua sudah dapat kejutan. Kejutan yang luar biasa dari salah satu siswi saya yang membuat saya banyak merenung hari ini.

13680524_10208457263221128_7999667392407226657_n

Pagi tadi saya meminta mereka menuliskan jurusan yang mereka incar setelah lulus pada sebuah kertas, dan berencana memasang foto mereka di kelas. Semua siswa excited kecuali satu siswi yang malah terdiam. Saya tidak menghiraukan pada awalnya, karena saya tahu dia termasuk siswi yang pendiam. Sampai saat istirahat pertama, saya sedang asyik mengobrol dengan siswa yang lain, siswi ini masih terdiam. Seperti melamun. Sayapun memanggil namanya, eh, dia malah tertunduk.

Continue reading

Tentang Ican dan Ayun, Duo Unik di Kelas

Setelah beberapa waktu lalu saya mem-posting cerita tentang Evi, saya mendapat complaint dari beberapa siswa di kelas. Mereka juga ingin dibuatkan postingan yang menceritakan diri mereka masing-masing. Dan itu membuat saya pusing karena itu artinya saya harus membuat 21 cerita berbeda berdasarkan pribadi mereka.

Sayapun bingung harus memulai dari siapa. Hingga tadi sore saya melihat sebuah foto dari dua siswa paling unik di kelas XI MIPA 2, dua siswa yang biasa saya teriaki tiap hari, yang biasa saya marahi tiap hari. 2 siswa yang mengalami perubahan drastis dari awal semester.

2 siswa itu, Ayun dan Ican.

IMG_5534

Ayun dan Ican Saat Pembuatan Proyek Drama Bahasa Inggris

Ketika diminta menjadi HRT kelas XI MIPA 2, para guru mewanti-wanti saya tentang seorang siswa yang mempunyai kepribadian unik sewaktu kelas X, Muhammad Ihsan. Saya sempat tidak percaya ketika mendengar cerita mereka tentang Ican. Mana ada siswa seperti itu, sampai saya menyaksikan sendiri tingkah laku Ican.

Continue reading

Anak Abah 2.0?

Tahun akademik 2015/2016 telah berakhir. Jujur saja saya menikmati aktivitas saya belakangan ini. Sebagai guru fisika, sebagai wali kelas, sebagai tutor, dan tentu saja sebagai a father-to-be. Walaupun mulai getar-getir, khawatir malah merasa nyaman dan lupa akan tujuan awal kenapa saya menunda untuk melanjutkan studi. Afterall, I’m enjoying my life currently. 

Kegiatan yang penuh di sekolah memaksa saya mulai melonggarkan aktivitas riset dengan Pak Abe. Lumayan membuat rasa tidak enak. Harapannya, tim mengerti dengan keadaan saya yang sekarang, dan saya sendiri sadar. Kalau dengan 3 job sekaligus dalam sehari, badan rasanya sudah tidak karuan ketika pulang ke rumah. Tapi kalau soal silaturrahim, tetap jalan. Saya masih sering mampir ke dekanat untuk menyapa Abi, Mr.B, Bu Diah, dan tim yang lain. Walau memang tidak serajin dulu, setidaknya masih bisa mengobrol menjelang sore.

Balik lagi ke cerita di sekolah, para pimpinan sedang sibuk dengan penempatan tiap guru, pembagian jam mengajar, dan rolling guru antar unit. Bagian terakhir saya tidak mau ambil pusing, karena saya sudah nyaman dengan kondisi saya di unit di SMA. Akan susah sekali kalau misalnya harus pindah unit. Karena pasti harus beradaptasi dengan tim yang baru, menyiapkan perangkat baru, dan tentu saja belajar menghadapi kondisi siswa yang berbeda.

Continue reading

Sebuket Bunga, Sepucuk Puisi, Sejuta Cinta

Apakah yang kumiliki, Anak-anakku,
sehingga layak mendapat ucapan di hari ini,
bersama sebuket bunga, sepucuk puisi, dan sejuta cinta?

Karena diri ini tak lebih dari lelaki,
yang diamanahi menjadi seorang pengajar,
yang dianugerahi sedikit ilmu,
Tak lebih, tak lebih.

karena diri ini tak lebih dari lelaki yang khawatir,
ilmu yang keluar dari bibir ini salah,
laku yang tercipta dari diri ini keliru,
menghadirkan tauladan yang tak layak diteladani.

Continue reading

Pendidikan Karakter Hanya Tugas Guru?

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka . Oleh sebab itu hendaklah bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (An-Nisa’ : 9)

Sungguh bahasan yang luar biasa diskusi wawasan keislaman malam ini. Diskusi yang biasa diadakan di Al-Furqon pada malam selasa dan jum’at kali ini membahas tentang khoiru ummah, ummat-ummat terbaik, dengan mengambil contoh bagaimana menjadi ummat-ummat terbaik seperti keluarga Ibrahim a.s dan Zakariyya a.s.

Ustadz kala itu, saya lupa namanya, menceritakan bagaimana Siti Hajar yang ridho ditinggalkan antara Shafa dan Marwah bersama bayi Isma’il karena perintah dari Allah. Isma’il yang ridho disembelih oleh ayahnya karena perintah dari Allah. Dan Zakariyya yang senantiasa percaya bahwa kelak dikaruniai putra walau dalam keadaan umur yang tidak muda dan istri yang mandul. Itulah ummat-ummat terbaik, yang senantiasa percaya bahwa Allah sebaik-baik penolong, bahwa Allah sebaik-baik tempat meminta.

Pertanyaannya kemudian, pendidikan seperti apa yang bisa menghasilkan ummat-ummat dengan karakter demikian?

Continue reading