Kenangan di Ujung Senja

“Sekarang ini anak-anak makin melupakan sejarah agama. Aku ingin suatu saat nanti, dari awal kedatangan di dunia ini seluruh anak muslim tahu, tiada kebanggaan yang berarti kecuali menjadi muslim.
Aku ingin mereka lahir sebagai muslim karena mereka memahami, meresapi, mengenal, menyentuh, meresakan, dan mencintai islam, bukan karena paksaan orang lain.
Dan aku ingin mereka tahu dalam setiap waktu, dalam masa depan mereka, mereka akan menemui orang-orang yang berbeda dalam hal kepercayaan, bahasa, dan bangsa.
Aku akan mengajarkan pada mereka bahwa perbedaan terjadi bukan karena Tuhan tidak bisa menjadikan kita tercipta sama.
Menciptakan manusia homogen iu bukan perkara sulit untuk-Nya.
Itu semua justru karena Tuhan Maha Tahu, jika kita semua sama, tidak ada lagi keindahan hidup bagi manusia.
Jadi, nikmatilah perbedaan itu.”
Ujar Fatma begitu mantap.

DSC02714.JPG

Sebuah paragraf dari 99 Cahaya di Langit Eropa, mengingatkan kembali betapa luar biasanya hidup setahun di Semau, Kab. Kupang, NTT.
Hidup menjadi minoritas muslim, praktik toleransi secara langsung, perbedaan budaya, bahasa, kepercayaan, namun tidak melupakan tugas sebagai seorang muslim; selalu berusaha menjadi agen muslim yang baik dimanapun berada.
Pengalaman hidup yang luar biasa, and I’m so grateful to have that experience.

Advertisements

Pertemuan, Kebersamaan, dan Perpisahan (PPG SM-3T UPI 2014)

Di antara hujan dan langkah kaki.
Aku memaknai sebuah perjumpaan
Seumpama partikel yang bergetar
Oleh hangatnya sapa
Oleh sejuknya sanyum
Oleh manisnya salam.
Hingga menjelma,
Pada medium,
Gelombang kebersamaan.

10659331_10203621815257951_7363512118102176062_n
Di antara hujan dan langkah kaki.
Aku memaknai arti kebersamaan
Pada gelombang yang terkadang naik turun
Oleh hadirnya tawa
Oleh hadirnya canda
Oleh hadirnya ketidaksepahaman
Hingga terkadang,
Pada satu titik
Gelombang berbalik fase.

Continue reading

PPG: Pendidikan Profesi Guru atau Pondok Pesantren Guru?

Pendidikan di negeri ini sudah menuju ke arah yang lebih baik. Hal ini terlihat pada mulai beralihnya perhatian pemerintah pada kualitas guru. Guru sekarang tak cukup hanya dilihat dari kuantitias saja, tetapi juga kualitas guru harus diperhatikan. Mantan Wakil Presiden Budiono pada Gelaran Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia menegaskan bahwa guru jangan seperti uang palsu, walaupu banyak kalau tidak ada gunanya maka tidak akan bermakna. Dari tahun ke tahun telah dilakukan berbagai program dalam rangka peningkatan profesionalitas guru, dari mulai sertifikasi melalui portofolio, PLPG, dan terakhir dengan berlakunya UU No. 14 Tahun 2005 guru sebagai pendidik profesional harus mempunyai sertifikat pendidik, yang diperoleh setelah menempuh pendidikan profesi.

Menurut UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Dengan demikian program PPG  adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk lulusan S-1 Kependidikan dan S-1/D-IV Non-Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru, agar mereka dapat menjadi guru yang profesional setelah menyelesaikan syarat-syarat sesuai dengan standar nasional pendidikan dan memperoleh sertifikat pendidik. Berdasarkan waktu pelaksaanannya, PPG terbagi menjadi dua, yakni PPG dalam Jabatan dan PPG Prajabatan. PPG dalam Jabatan merupakan program PPG yang diikuti oleh para guru PNS / Guru Tetap Yayasan. Sedangkan peserta PPG Prajabatan adalah para Sarjana Pendidikan yang belum bertugas sebagai guru PNS/Guru Tetap Yayasan. Penyelenggara PPG adalah LPTK (Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan) yang dipilih oleh dikti untuk mengelenggarakan PPG.

Continue reading

Maaf, Teh. Aku Tak Paham.

26 November 2014,

Sudah 2 tahun semenjak musibah itu, tapi rasanya sudah lama sekali  Teh, sudah lama sekali aku menghubungi teteh, saling bertanya kabar, saling bercerita. Karena semakin lama ingatan tentang teteh semakin hilang. Entah karena apa, aku tak paham.

Sudah 2 tahun Teh, Kami sekarang melanjutkan PPG di UPI, teteh dan kang gegeut harusnya berada di sini. Aku bisa membayangkan bagaimana teteh ikut ngantri makan di dinning hall, atau jadi yang paling antusias waktu acara studi wisata ke Ciwedey, atau jadi yang paling aktif di acara outbond. Dan aku juga bisa membayangkan ide-ide dan pertanyaan-pertanyaan brilliant yang terucap dari lisan teteh bila ada forum-forum dan seminar.

Aku bisa membayangkan teteh berada di antara kami. Tapi entah kenapa, bayangan itupun hanya sesekali hadir. Ingatan tentang teteh semakin hilang.

Sudah 2 tahun teh. Agustus lalu kami menghadiri acara kumpul MBMI, hampir sebagian besar SM-3T angkatan kita hadir semua di acara itu. Aku juga membayangkan teteh hadir di sana. Dan aku yakin, teteh akan menjadi orang yang paling antusias untuk berkenalan dengan guru Sm-3T dari tempat lain. Aku yakin itu.

Hanya saja, saat video itu ditayangkan, bayangan itupun hilang, tak mungkin seorang hadir pada acara dimana video kenangan wafatnya ditayangkan, kan? Tak mungkin juga kami menangis saat melihat video tersebut jika teteh dan kang geugeut memang ada di antara kami?

Sudah 2 tahun teh, kuliah lalu PPL, semua kami jalani. Datar.

Hanya saja, selama 2 tahun ini sulit bagi kami untuk selalu mengingat teteh, mengingat kang geugeut, mengingat bahwa memang ada orang-orang yang sangat ikhlas dan rela untuk mengabdi dan berbhakti pada negeri ini. Sulit bagi kami untuk mengingat kalian berdua. Ketika kami merasa tidak dihargai, merasa kalau kerja tidak sesuai dengan imbalan yang diberikan, merasa kalau tugas terlalu berat, merasa ini, merasa itu, merasa serba kekurangan.

Selama 2 tahun ini, sulit sekali teh, untuk meluruskan niat, seperti yang selalu teteh anjurkan.

Sudah 2 tahun teh, semakin aku paham sulitnya ikhlas dan rela dalam berbakti, semakin aku tidak mengenal teteh. Rasanya sulit membayangkan sosok yang benar-benar nyata, sosok yang seperti teteh. Sedang di sini rasanya niat kami terus-terusan diuji.

Semakin aku paham sulitnya ikhlas dan rela, semakin aku tidak memahami Teteh. Seorang yang memiliki banyak kelebihan, banyak potensi, lebih memilih untuk mengabdi, padahal begitu banyak peluang dan kesempatan untuk teteh.

Sungguh aku tak paham teh.

Sudah 2 tahun teh, ingatan tentang teteh, sosok teteh yang aku kenal, perlahan menghilang. Barangkali, karena sikap tidak peduli sudah menerkam prinsip kami. Bahwa urusan orang lain bukanlah urusan kami. Bahwa keadaan kampung halaman dan sekitar bukan jadi tanggung jawab kami.

Barangkali, karena rasa ingin dihargai telah merasuki jiwa kami. Sehingga sangat sulit dan berat melaksanakan tugas-tugas yang tidak ada manfaatnya bagi kami sendiri walaupun hal tersebut bermanfaat bagi orang lain. Sehingga, kami mengeluh, mengeluh, dan mengeluh lagi untuk tugas yang diberikan, untuk imbalan yang diberikan.

Barangkali, karena kami sudah lupa bahwa hidup ini bukanlah segalanya, bahwa tujuan kita ada di sana. Di akhirat kelak.

Barangkali, karena kami sudah lelah Teh. Lelah dengan keadaan yang sepertinya tidak mau berubah walau kami mencoba merubahnya.

Barangkali…

Ahh….

Perlahan ingatan tentang semangat teteh dan kang geugeut mulai memudar.

Maaf, kami hanya mengingat teteh dalam peristiwa 2 tahun lalu, mengenangnya secara simbolis saja, lupa bagaimana semangat pengabdian teteh.

Maaf, kami hanya mengingat teteh dalam peristiwa 2 tahun lalu, tanpa ingat bagaimana seharusnya kami mengingat teteh.

Maaf Teh…

Aku lupa dan tak paham, apa arti pengabdian.

Teruntuk Saudari Kami, Teh Winda

Banyak hal yang ingin saya tulis, banyak hal yang ingin saya ceritakan, banyak hal yang ingin saya bagi, banyak hal juga yang ingin saya kisahkan pada dunia, tentang teteh, tentang bagaimana luar biasanya teteh. Tentang arti pengabdian yang teteh tunjukkan pada kami.

Saya tahu, saya paham.. saya tak begitu mengenal teteh, baru saja bertemu, dalam hitungan bulan. Kita tak pernah ‘duduk’ dalam satu almamater. Apalagi menjadi teman seperjuangan dalam meraih gelar sarjana… hanya hitungan bulan, saya mengenal teteh…

Tapi entah kenapa hitungan bulan itu, begitu berkesan, begitu bermakna, begitu banyak yang bisa saya ambil pelajaran, begitu banyak inspirasi yang teteh radiasikan kepada kami. Begitu banyak kenangan yang teteh bagi, semuanya begitu berkesan…

Satu persatu, saat berita itu sampai ke beranda Mess kami, sampai musibah itu mencengangkan kami, membuat kami merasa ini semua bagai mimpi.. satu persatu mozaik-mozaik kenangan tentang kalian termuat ulang… tergambar kembali, seolah baru kemarin teteh bersama kami, baru saja kita saling membalas komen tentang delivery bakso iga-iga dari Aceh Timur ke Kupang… baru saja teteh membersamai kami..

Teh Winda,

Masih ingatkah pertama kita bertemu? saya takkan pernah lupa, kelas A pukul 11.00, tes wawancara dengan 8 orang lain. Tak ada yang special tentang teteh, saya ingat, hanya saja jawaban yang teteh ungkapkan tentang alasan mengikuti program ini seolah masih terngiang di telinga,..

“Saya ingin mengubah kembali paradigma saya tentang pengabdian. Saya rasa hidup lama di kota besar membuat saya teracuni oleh penyakit yang ada di sini, apa-apa dinilai dengan uang. Maka dari itu saya mengikuti program ini, untuk membuktikan dan  mengembalikan apa yang saya yakini dulu”

Kurang lebih seperti itu. saya rasa itu luar biasa, luar biasa sekali. Maka dari itu saya berharap bisa berkawan baik dengan teteh, bagi saya pribadi, sangat luar biasa bisa berkawan dengan orang yang mempunyai visi hidup luar biasa seperti teteh.

Maka dari itu, saat kita bertemu di hari pertama prakondisi, saat saya sapa teteh, dan menanyakan penempatan dimana, teteh senyum dan berucap,

“wah.. berpisah dong.. selamat ya”

Itu saja..

Tak bermaksud marah, tapi jawaban yang kurang ramah itu membuat saya agak menghindar dari teteh. Tapi kemudian tak bertahan lama, tak bertahan lama saat kita berkumpul bersama dengan peserta lain, menikmati makan siang, teteh bertanya,

“Fal, kamu ‘kan udah jadi Asdos di Unila, kenapa ikut program ini?” “Ada aja”

Jawab singkat saya, berusaha untuk menutupi, karena saya yakin, alasan saya sebenarnya tak perlu banyak orang yang tahu.

Jawaban singkat itu, menjadi boomerang, menjadi semacam penyesalan bagi saya pribadi. Karena  semakin saya mengenal teteh, semakin saya tahu bahwa teteh tulus bertanya seperti itu. Tulus ingin mengetahui alasan-alasan dari peserta lain, menjadikannya pelajaran dan semangat untuk teteh pribadi. Saya menyesal tidak bisa bercerita lebih banyak.

Hari berganti hari di prakondisi,

Saat kawan-kawan teteh diluar sana mempersiapkan wisudanya, mempersiapkan perayaan selesainya masa kuliah. Teteh membersamai kami, mengikrarkan diri untuk mengabdi, merelakan selebrasi sekali seumur hidup, untuk sebuah kata, pengabdian. Dan dengan sedikit sedih teteh selalu menjawab,

“Saya yakin Allah punya rencana lain yang indah buat saya.”

Ya teteh, Allah telah merencanakan sebuah cerita yang indah untuk teteh. Sangat indah. :’)

Hari berganti hari di prakondisi,

Teteh menginspirasi sekaligus menghentak kami oleh sesuatu hal yang harusnya kami sadari dari dulu, harusnya kami luruskan sedari kami memutuskan untuk mengikuti program ini, niat.

Niat utama kami mengikuti program ini, niat utama kami memilih mengabdikan diri jauh dari kampung halaman. Dengan lantangnya, malam itu, teteh bercerita tentang masa muda teteh di kampung, tentang bagaimana teteh mengumpulkan pundi-pundi hasil hadiah perlombaan-perlombaan yang teteh juarai sewaktu sekolah untuk modal kuliah, bagaimana teteh bercerita tentang program yang akan dilakukan, mencari bibit unggul di daerah 3T agar bisa meneruskan mimpinya, agar bisa terus bisa mengembangkan potensinya, melalui jaringan-jaringan yang kita punya di tanah Jawa, melalui beasiswa-beasiswa. Satu hal yang saya pahami malam itu, teteh tak ingin generasi-generasi emas di daerah 3T redup sinarnya oleh permasalahan yang klasik, biaya.

Niat dan rencana yang luar biasa, terlebih luar biasa saat kami mengetahui bahwa semua itu keluar dari pemikiran seorang lulusan terbaik UPI Wisuda Oktober 2012, dengan IPK 3,98. Subhanallah, saya hanya bisa menyimpan rasa kagum dalam hati. Teteh, engkau memberikan bukti pada saya pribadi bahwa orang cerdas dan peduli itu masih ada.

Teh Winda,

Begitu banyak kenangan yang engkau bagi dalam selang yang singkat ini. Begitu banyak pelajaran yang engkau beri kepada kami. Begitu banyak inspirasi yang engkau radiasikan kepada kami. Ingin kami, engkau tetap membersamai kami, berjuang bersama sampai akhir masa pengabdian ini. Malah saya sempat berharap kita bisa PPG di LPTK yang sama, supaya makin banyak yang bisa saya pelajari dari teteh. Supaya selalu bersemangat seperti teteh.

Namun, kita berencana, tetap Allah lah yang memiliki rencana paling indah.

Rencana Allah sungguh luar biasa, rencana yang sangat luar biasa. Sampai saat inipun, saya masih tak menyangka. Baru saja mengenal, baru saja berjuang bersama, baru saja.. teteh sudah meninggalkan kami. Dan kami yakin ke tempat yang lebih baik di sisiNya. Mungkin Allah begitu sayang pada teteh sampai memanggil di saat teteh sedang melaksanakan tugas.

Teh Winda,

Bolehkah kami menangis? Menangis sebentar saja, walau teteh tahu, tangis saya yang paling keras di antara peserta lain, dan tak bisa sebentar. Heheh..

Tapi bolehkah kami menangis  teh? Menangis karena kepergian teteh, menangis karena teteh tidak bisa membersamai kami sampai akhir pengabdian ini, menangis karena kami akan kehilangan saudari kesayangan kami, menangis karena kami akan kehilangan senyum penuh semangat itu, langkah yang selalu ceria itu, dan kata-kata penyemangat yang selalu terasa hangat saat itu keluar dari lisan teteh. Bolehkah kami menangis untuk itu semua? Bolehkah teh? Walau sebentar saja.

Kami janji, kami akan menangis sebentar saja. Karena kami masih punya tugas yang lain, saudara kita teh, kang geugeut masih belum ditemukan. Saudara yang membersamai teteh, dalam musibah ini. Masih belum ditemukan.  Ane tahu, harapan itu kecil. Tapi kita tak boleh hilang harapan kan? Tak ada yang tak mungkin bagi Allah kan? Karena itu, kami akan terus berdoa untuk keselamatan beliau.

Kami janji, kami akan menangis sebentar saja. Karena tugas kami masih begitu banyak. Perjuangan ini masih harus dilanjutkan. Kami berjanji, doa kami takkan putus untuk teteh dan kang geugeut. Takkan putus karena kalian berdua memberikan bukti nyata arti pengabdian.

Kami janji, kami akan menangis sebentar saja. Karena apa yang telah teteh ajarkan pada kami, apa yang telah teteh bagi untuk kami, inspirasi yang teteh radiasikan kepada kami, serta kenangan-kenangan yang kita lewati bersama, akan terus menjadi penyemangat kami. Akan terus ‘menyengatkan’ diri kami untuk terus berjuang semaksimal mungkin.

Kami janji, kami akan menangis sebentar saja. Jadi bolehkah kami menangis sekarang teh?

karena walaupun berat, bibir ini mau tak mau harus berucap…

Selamat jalan teh winda…

Selamat jalan, wahai pahlawan….

di tanah Timor dan tanah Rencong, semangat teteh akan tetap membersamai kami…

****

Ditulis 2 tahun lalu, November sebentar lagi, tidak terasa, kami merindui kalian, Teh Winda, Kang Geugeut.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihi wa’fu anhum