Persepsi

​Cinta tidak pernah meminta kita untuk menyamakan sudut pandang 

Melihat suatu hal dengan lensa yang sama 

Cinta tidak pernah meminta kita untuk menghadirkan persepsi seragam 

Memandang sesuatu dengan kacamata yang sama 

Cinta tidak pernah meminta hal seperti itu 

Cinta meminta kita untuk mengambil gambar dan persepsi yang berbeda 

Meletakkan pada tempat yang sama 

Lalu kita memilih 

Menerima yang baik 

Memperbaiki yang buruk 

Hingga hadir ragam cerita untuk objek yang sama 

Cinta meminta untuk ridho dan menerima setiap persepsi yang berbeda 

Setiap sudut pandang yang berbeda 

Gambar yang berbeda 

Bukan karena kita mengalah 

Tak punya pendirian 

Tapi karena kita cinta. 

Tentang Adel, Sherina-nya El-Biruny

Beberapa minggu lalu, salah satu teman saya memposting foto-foto dari film Petualangan Sherina, yang sedikit banyak membawa memori jaman SD. Dulu kayaknya luar biasa sekali jika ada sosok sejenis Sherina: ceria, pintar, punya jiwa pemimpin, care, berani, dan sedikit tomboy.

Dari postingan tersebut, saya jadi teringat, ada juga sosok yang seperti itu di kelas kami. Sosok yang persis dengan tokoh Sherina dalam film tahun 90-an tersebut. Tidak sama persis memang, tapi tingkah laku siswi ini dalam kesehariannya sedikit banyak menggambarkan bagaimana jadinya Sherina jika dalam seragam putih-abu.

image

Mari saya ceritakan satu lagi siswi di kelas kami, Riska Adellia, Si Sherina di ElBiruny.

Continue reading

And This Is The End Of The Term…

“It is hard to convince a high-school students that they will encounter a lot of problems more difficult than those of algebra and geometry.”

Edgar Watson Howe

Setelah circle time pagi ini dan anak-anak sudah turun ke Al-Madani untuk seminar Social Media, saya mulai merapikan meja HRT yang sudah berantakan semenjak berakhirnya UAS. Ya, Raport juga sudah masuk ke Principal untuk ditandatangani, jadi tidak ada salahnya berbenah ‘sedikit’, biar nanti bisa nyantai saat closing time.

Meja HRT mulai saya geser, setiap bagian mulai saya sisihkan, satu persatu. Mulai saya sortir mana berkas yang masih dibutuhkan, mana yang bisa menjadi scrap paper, mana yang harusnya sudah dibuang. Saya sortir satu persatu. Seperti biasa, ternyata saya lebih banyak menyimpan hal-hal yang memang sudah tidak dibutuhkan lagi. hehehe..

Proses tidy up yang lumayan mengundang flashback, tiap berkas yang saya baca seperti mozaik-mozaik yang saya susun selama saya menjadi physic teacher di Global Madani, selama saya menjadi homeroom teacher kelas XI MIPA 2, selama saya mendapat amanah menjadi Abah bagi 22 siswa yang luar biasa.

Sungguh, saya sangat bersyukur Allah memberikan kesempatan yang luar biasa ini, karena saya mempelajari banyak hal dari pengalaman ini. Memperkaya hidup saya dengan seabrek ilmu, cerita, hikmah, yang saya yakin akan berguna bagi kehidupan saya di masa yang akan datang.

“Perbaiki diri terlebih dulu, sebelum meminta anak didik kita memperbaiki diri”

22 anak-anak ini mengajari saya hal tersebut.

Berbagai pengalaman yang terjadi selama term ini menguatkan keinginan saya untuk terus menjadi guru, terus melakukan interaksi langsung dengan siswa. Berusaha memperbaiki negeri ini melalui mereka. Walau saya tahu, diri saya sendiri masih perlu banyak berbenah.

Ya, banyak sekali yang saya harus benahi.

Ah, asa teu nyambung sama qoute di awal. hehehe…

Afterall, this is the end of this term. I really excited for what will happen on next term.