Kisah Cinta Pak Camat

Beberapa bulan lalu, sebuah pesan masuk di IG. Sebuah akun yang sama sekali tidak saya kenal.

Mau menanyakan sesuatu yang sifatnya rahasia. Saya cek akunnya, dari Aceh.

Oke. Berarti ini ada kaitannya dengan salah satu kakak-kakak di Serambi Mekkah sana.

Sayapun membalas.

“Ada yang ana mau tanyakan perihal Ujang.”

Nah kan bener.

“Afwan.. Ana lihat di instagram.. Antum sepertinya mengenal bang Ujang..pernah satu PPG ya? Mungkin antum berkenan untuk memberikan sedikit informasi mengenai beliau dari sudut pandang antum. Ana sedang taaruf dengan beliau.”

Widih… Keren banget Akang gue. Gak bilang-bilang.

“Dan sudah bertukaran biodata. Hanya saja beliau adalah orang asing yang sebelumnya tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan ana. Dan ana baru pertama kali ta’aruf dengan ikhwan. Jadi ana harap antum berkenan untuk membantu ana. Syukran jazakallah.”

Saya tarik nafas panjang. Terus tanya pendapat istri baiknya gimana. Istri cuma bilang,

“Ya udah, jelasin aja Ujang orangnya kayak gimana.”

Maka sayapun mulai mengetik,

“AlhamduliLlah.. Tapi afwan jika nanti kurang representatif, kami memang satu tahun seasrama, dan ini dari sudut pandang ana.”

Sayapun mulai sedikit menjelaskan tentang Akang yang satu ini, mulai dari sikapnya, tanggungjawabnya, tarbiyahnya, dan tentu saja sikap jeleknya.. Hehehe..

Terakhir saya mendoakan semoga dilancarkan prosesnya.

Continue reading

Tentang Sebuah Proses …

Kebahagiaan paling tinggi adalah kenyataan bahwa kita dicintai, meski bagaimanapun keadaan kita.– Unknown

4 Januari 2016

Seminggu telah berlalu, rasanya melihat senyummu di balik pintu, membuat dinginnya pagi ini tidak terasa. Berat untuk memulai kembali aktivitas dan berpisah.
“Apa lagi A yang ketinggalan?”
“Helm Yang”
“Ah, pasti pengen ketemu lagi kan?”
Saya hanya tersenyum menerima helm yang kamu berikan.
“Aa berangkat ya yang”
Ah.. Beda rasanya, sungguh beda antara berangkat kerja dua minggu yang lalu dengan hari ini. Sungguh beda. Sepanjang perjalanan saya terus berpikir, is it a dream? am I dreaming?

Continue reading

Bukan Membeli Kucing dalam Karung

keep kalm and trust on taaruf

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena kamu percaya Allah sudah menentukan jodohmu, prihal menjemputnya itu pilihanmu, sesuai syari’at-Nya atau suka-suka, yang nantinya berdampak pada rasa saat bersama.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat kamu mengisi tiap bagian dari proposal nikahmu, tak henti kau berdoa dan menghadirkan sebaik-baik prasangka sambil bercerita dengan sejujurnya, tentang dirimu, keluargamu, dan harapanmu di masa yang akan datang.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat ada seseorang di luar sana meresepon proposalmu, dan ustadz memintamu beristikharah, lagi dan lagi kau berprasangka baik pada-Nya, hingga sambil mengucap bismiLlah, kau memutuskan untuk lanjut ke proses berikutnya.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat kesempatan pertama kali untuk melihat secara langsung, kau sendiri tidak dapat menerjemahkan arti dari dada yang bergetar, kaki yang lemas, serta bibir yang tak henti berucap, “Masya Allah…” sepanjang perjalananmu pulang.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh. Karena lagi-lagi kau istikharahkan pilihanmu. Hingga kaupun kembali mengucap bismiLlah untuk lanjut ke proses selanjutnya.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena tiba giliranmu untuk bertemu dengannya, berkesempatan untuk bertanya ini-itu, kau tidak dapat menerjemahkan arti getar di dada, bibir yang kelu, dan mata yang tertunduk malu. Walau ustadz sudah berulang kali membolehkanmu untuk saling menatap.

 

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena kaupun tidak tahu keberanian darimana, hingga kau dapat berucap dengan mantap,
“Kita dipertemukan oleh dakwah, in sya Allah kelak akan saling mendukung dalam dakwah”

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saatnya tiba untuk mengkhitbah, kau berusaha dengan keras meyakinkan orang tuamu, kakak-kakakmu, handai taulan, bahwa inilah jalan yang ingin kau tempuh dalam menjemput jodoh.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat tiap rintangan, halangan, serta cobaan yang datang, kau menyerahkan semuanya kepada Allah. Menghadirkan sebaik-baik prasangka kepada-Nya dan kepadanya.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat pertama kau mengenal orangtuanya, kau banyak belajar tentang dia, tentang keluarganya, tentang kisah hidupnya, yang membuatmu semakin yakin, Allah punya rencana terbaik untuk dirimu, dan dirinya.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena saat kau merasa lelah berusaha, kau sadar bahwa ada di luar sana, ada yang juga ikut berusaha, sama-sama merindukan dalam doa, sama-sama menanti dalam taat.

Ta’aruf bukan membeli kucing dalam karung, sungguh.
Karena kelak saat akad sudah terlaksana, saat ijab sudah terucap, ada kejutan yang menanti, seseorang yang belum lama kamu kenal, menjadi bagian dari hidupmu, bersama saling mendukung menuju surga-Nya.

In sya Allah…

Continue reading