Hijrah dan Cermin

Hijrah, sebagai upaya untuk menghapus sifat-sifat jahiliyah yang ada dalam diri, sungguh bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Karena sekeras apapun kita berusaha membersihkan, pasti akan ada sisa-sisa kotoran yang menempel, ada sifat-sifat yang tidak bisa dihilangkan.

Mungkin kita bisa berkaca sejenak, dari teriak marah Rasulullah kepada Abu Dzar,

“Wahai, Abu Dzar. Engkau telah menghinakannya dengan merendahkan ibunya. Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliyah.!”

Saat Abu Dzar dengan mudahnya berkata kepada Bilal,

“Wahai anak wanita berkulit hitam.”

Mungkin kita bisa berkaca sejenak, pada Umar Bin Abdul ‘Aziz yang menangis,

Aku takut itu adalah cara jalan angkuh yang dibenci Allah

IMG-20170830-WA0012.jpg

Continue reading

Advertisements

Itqan

Seorang muslim yang bekerja dengan penuh keikhlasan kepada Allah SWT pada akhirnya akan memiliki sifat itqon (baca ; profesional) dalam pekerjaannya. Dia sadar bahwa ketika dia hadir tepat waktu, melaksanakan kewajibannya dengan tuntas, tidak menunda pekerjaan, tidak meremehkan pekerjaan, adalah bagian yang penting dari bekerja itu sendiri yang dia tujukan sebagai ibadah kepada Allah SWT. .
.IMG_3151

Continue reading

Telaga Kautsar

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Anas r.a, pernah suatu saat RasuluLlah SAW sedang bersama para sahabat dalam keadaan tidur ringan. Beliau terbangun dan tersenyum. Para sahabat kemudian bertanya kenapa beliau tersenyum. “Baru saja turun padaku suatu surat.” Lalu beliau membacakan surat Al Kautsar: 1-3. . . “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” . .

GOPR8885.JPG

Setelah itu beliau menjelaskan tentang makna dari Al – Kautsar. . “Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebagian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut.  Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat bid’ah sesudahmu.” (HR. Muslim no. 400). .
.
Selain memberikan kabar gembira kepada kita tentang adanya telaga RasuluLlah SAW di akhirat kelak, surat Al-Kautsar mengingatkan kepada kita tentang nikmat yang begitu banyak yang telah Allah berikan kepada kita. .
.

Sebagai seorang hamba sudah sepantasnya bagi kita untuk terus mensyukuri nikmat-nikmat yang Allah berikan, yang kita sadari dan yang kita tidak sadari, yang tampak dan yang tidak tampak. .
.

Continue reading

Wangi

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Foto Ahmad Naufal Umam.
Berharap diri yang bau ini terciprat wangi dari beliau-beliau yang harum ilmu dan hikmahnya selalu membuat diri ini terkagum.

Menjadi Guru

Pagi ini, setelah membaca Surat Al-Kahf, saya meminta seorang anak untuk membacakan terjemah ayat ke-10 dari surat tersebut. Saya menceritakan kepada anak-anak bahwa dalam ayat tersebut terdapat doa yang dibaca oleh pemuda Kahfi ketika masuk ke dalam gua. Doa yang bisa dilafalkan agar Allah memberikan rahmat-Nya dan menyempurnakan setiap urusan. Seperti ujian dan urusan-urusan lainnya. Kamipun melafalkan doa tersebut bersama-sama.
Lalu pelajaran pertama dimulai.

Setelah pergantian jam, sebuah buku catatan terbuka di atas meja salah satu anak, potongan ayat yang kami baca tadi lengkap dengan terjemahnya tertulis di sana. Ternyata tanpa diminta, anak tersebut menuliskan potongan ayat tersebut. 

Foto Ahmad Naufal Umam.

Saya menghela nafas. Ah.. sungguh benarlah menjadi guru itu bagai berada di ladang amal yang terhampar luas. Saat kita memberikan kebaikan, maka kebaikan itu akan menjadi amal jariyah yang pahalanya akan mengalir terus menerus kepada kita. Namun sebaliknya, menjadi guru juga bisa menjadi beban yang berat. Karena ketika yang kita bagikan adalah keburukan, maka hal itu juga akan menjadi dosa jariyah yang kelak konsekuensinya terus mengarah kepada kita.

Istiqomahlah, Bujang!

RasuluLlah SAW menjelaskan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa ada 6 perkara yang apabila dilakukan Rasulullah menjaminkan surga terhadapnya. Salah satunya adalah menjaga pandangan.
Saat ini, dengan segala fitnah yang ada di sekitar kita. Begitu beratnya menjaga diri dari fitnah-fitnah yang dapat menggoda pandangan kita ke arah yang haram. Bisa jadi ketika iman dan rasa takut kita kepada Allah Ta’ala sedang turun, maka dengan mudah kita mengumbar pandangan dan syahwat kita itu dan melalaikan perintah Allah dan RasuluLlah kepada kita. Yang pada akhirnya membawa kita pada kerusakan yang lebih besar.

IMG-20170702-WA0009.jpg

Continue reading

Tawadzun dalam Amanah

Terkadang kita merasa cukup dengan amanah yang bisa tuntas kita kerjakan di luar sana.
Amanah-amanah yang menghadirkan decak kagum orang, tepuk tangan dan hal-hal gemerlap lainnya.

Namun, kita mengesampingkan bahwa ada amanah yang lebih besar, yang Allah berikan langsung kepada kita.
Melalui mitsaqan ghaliza,
Disaksikan para malaikat.
Amanah yang didapat ketika ijab terbalas oleh qabul.
Amanah itu adalah istri kita.

april_2017-06-25-15-51-29-567.jpg

Kita bersibuk ria,
Membawa pekerjaan ke rumah,
Membalas chat-chat yang menurut kita penting saat makan berdua,
Mengsampingkan bahwa ada hati yang ingin didengar curhatannya,
Hati yang ingin dipahami saat diamnya,
Hati yang terus bersabar menunggu kita luang waktu.

Continue reading