Tentang Kesalahan

​Sungguh betapa indahnya hidup bila kita tidak pernah melakukan kesalahan, tak pernah menyakiti orang lain, tidak pernah membuat orang lain kecewa. 

Tapi hidup yang seperti itu, bukanlah hidup yang sebenarnya. 

Kita pasti melakukan kesalahan, sengaja atau tanpa sengaja, melukai bahkan membuat orang lain kecewa. 

Karena itulah kita, manusia dengan segala kelemahannya. 

Namun, jangan patah semangat. 

Setiap kesalahan yang kita perbuat, setiap hati orang yang kita kecewakan, akan menjadikan kita pribadi yang lebih bijak, lebih peduli. 

Bahwa setiap kesalahan itu akan menjadi pengalaman berharga bagi kita, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. 

Bahwa kita akan belajar dari setiap kesalahan yang telah kita perbuat. Perlahan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. 

Bahwa tidak ada harapan yang pupus, tidak perlu ada rasa kecewa dan patah semangat
Tegak.

Perbaiki. 

Berubah. 

Menjadi lebih baik. 

Kemudian istiqomah. 

Selalu ingat, ada doa yang senantiasa terlantun, dari orang-orang yang menyayangi kita, dari orang-orang yang percaya bahwa kita bisa menjadi lebih baik lagi. 

Dan lagi.

Ayah….

Ayah, tak banyak hal yang ingin aku bincangkan..
Seperti yang biasa kau katakan,
“ayah diam bukan berarti setuju..”
Bertahun-tahun baru aku mengerti arti kata-kata itu,
Bertahun-tahun pula aku salah mengartikan,
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…..

Ayah, selalu saja aku berpikir, “apanya yang jadi fitnah?? Dan siapa yang ngefitnah..??”
Tiap kali kau berkata, “Ayah tidak mau ini menjadi fitnah..”
Di saat aku merengek, memelas, sesuatu yang tak bisa engkau usahakan..
Baru sekarang aku mengerti arti kata-kata itu,
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…

Ayah, pernah engkau mengajakku berkeliling, kau utarakan semua impian-impianmu
Harapan-harapanmu, untukku, untuk anak-anakmu,
Aku tak mendengarkan ayah, aku tak menyimak…
Tapi baru sekarang kurasa, semua itu begitu indah..
Impian-impian itu…
Harapan-harapan itu, begitu indah…
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku….

Ayah, pernah aku membenci,
Pernah aku membenci keputusanmu…
Saat kau tak mengabulkan keinginanku…
Tapi sepertinya yang lebih mengetahui aku adalah kamu, ayah…
Sungguh…
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku….

Ayah..
Aku menangis saat ini,
Menangis…
Teringat saat aku membuatmu kecewa,
Membuatmu mengusap dada,
Membuatmu…..
Ahhh…
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…

Ayah… begitu banyak yang engkau korbankan..
Begitu banyak…
Dan aku hanya bisa membuatmu kecewa,
Bahkan sampai saat ini pun,
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…

Ayah..tak pernah sedikit pun kudengar engkau mengeluh..
Tek pernah…
Sementara aku,
Tak bisakah aku setegar dirimu ayah..???
Aku ingin setegar dirimu…

Ayah… tak pernah tenang hatiku sampai kau berkata, “ayah selalu mendoakanmu”
Atau saat ku memandang matamu yang menyejukkan itu…

Ahh ayah,
Keikhlasanmu,
Ketegaranmu,
Adalah inspirasiku…

Tentang Ujian

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji?” (AlAnkabut 2)

Tak kurang 1 bulan lalu, saya merasakan ujian yang membuat saya berpikir bahwa memang beginilah cara Allah menunjukkan kasih sayang pada hamba-Nya, menunjukkan bahwa hamba-Nya telah melalui jalan yang salah, menunjukkan bahwa Dia peduli tentang apa yang dilakukan dan apa yang ada dalam hati hamba-hamba-Nya.

Satu bulan lalu, masih terasa bahwa shubuh itu saat mendengar suara beliau di ujung telepon, “kecelakaan, bapak cuma lecet-lecet saja di muka dan kaki”

Hati mencelos, langsung terbayang bagaimana keadaan beliau, dan saya yakin beliau hanya membuat agar hati saya tenang dengan menambahkan kata ‘cuma’ saat menjelaskan keadaan yang beliau alami. Hati mencelos, langsung terbayang bagaimana kronologisnya, saat beliau menceritakan bagaimana beliau terlempar dari motor, tak sadarkan diri, sedangkan kakak kedua saya memeluk beliau sambil menangis.

Hati mencelos, saya tersedu, menangis, menyalahkan semuanya. Menyalahkan Bapak yang memaksakan diri pergi menyalahkan Kakak yang tidak hati-hati, menyalahkan sepupu yang berkhitbah hari itu. Termasuk diri saya sendiri yang tidak bisa berada di sana saat beliau membutuhkan. Maka dalam hatipun berteguh, selepas pelatihan pembina pramuka saya akan pulang ke rumah.

Dan Allah punya rencana lain saat itu, di perjalanan pulang ke rumah, saya mendapat kejutan lain dari Allah. Sudah terlalu larut saat saya tiba di terminal Serang malam itu, bis menuju Labuan sudah tidak ada lagi, maka seperti biasa saya putuskan untuk bermalam di masjid di terminal pakupatan, menunggu waktu shubuh sebelum melanjutkan ke rumah. Seperti yang biasa saya lakukan bila pulang dari saat kuliah dulu. Mungkin karena terlalu capek, saya yang biasanya terjaga di perjalanan, malam itu pulas di teras masjid, Adzan shubuh yang membangunkan. Dan saat tersadar ransel yang saya bawa lenyap. Hanya menyisakan kantong plastik berisi ransel hadiah untuk adik saya, yang saya jadikan bantal tidur. Lirik kanan kiri, tidak ditemukan sama sekali.

Continue reading