Maka Berlombalah dalam Kebaikan

Rabu pagi, selepas pelajaran Fisika, first break time. “Eh besok puasa yuk?” “Yuk, nanti malam kita sahur bareng.. Bangunin geh.” “Mau ikutan sih.. Bangunin ya.” “Iya kamu aja yang bangunin, saya susah bangun kalau malam.” Beberapa menit kemudian, setelah A minta dibangunkan oleh B. C jangan dibangunkan oleh D. E harus ditelepon, dan bla-bla-bla, akhirnya jadilah bagan jarkom kelas. Saya memperhatikan, dan memberi pendapat seperlunya. “Nanti sore share nope masing-masing di grup ya.” Sore harinya grup ramai, “telepon aja sih. Kouta saya mau abis.” “kamu bangun langsung aja nanti. Gak usah dibangunin.” “telepon ke no ibu saya aja ya.” Saya senyum-senyum saja, jadi silence reader.

16298970_10210142047539683_8536635935232540417_n
Menjelang subuh, notif penuh oleh obrolan. “Ada-ada aja, sahur kok pake sarden. Nanti haus loh.” “Si F udah bangun belom?” “Ngantuk oy” “shalat-shalat. Baru sahur.” Saya kembali senyum-senyum sendiri.
Pagi hari, “Kami semua puasa hari ini, Bah. Cuma D, W, gak puasa lagi udzur.”
“Saya gak sahur Bah, kirain semalam cuma tahajud aja.” Saya tersenyum, AlhamduliLlah.
Siang hari, para siswa tergeletak di belakang kelas, lemas. Para siswi beraktivitas as usual, lebih keliatan segar dari para siswanya.
Saat maghrib, “Selamat berbuka.” “Mantap.” Syukur dalam hati dan berdoa, semoga amal ibadah kalian diterima di sisi Allah, dan apa yang kalian hajatkan Allah kabulkan semua.

Advertisements

Ujian Kesyukuran

Kesulitan yang kau alami,
Hanyalah sementara.

Kau takkan menyadari,
Kau semakin kuat,
Untuk setiap kelam malam yang kauhadapi.

Jiwamu semakin bijak,
Dan mulai menghargai,
Setiap berkah yang kauterima dalam hidup.

img_20170207_210422_459

Tidakkah kaurasakan,
Hadirnya kepuasan,
Untuk setiap tantangan,
Yang kau hadapi,
Dengan sepenuh hati?

Kau beranjak tua,
Kau beranjak dewasa,
Dan menjadi bijak.
Maka nikmatilah,
Apa yang hidup ini tawarkan
Padamu.

Tentang Ujian

β€œApakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, β€˜kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji?” (AlAnkabut 2)

Tak kurang 1 bulan lalu, saya merasakan ujian yang membuat saya berpikir bahwa memang beginilah cara Allah menunjukkan kasih sayang pada hamba-Nya, menunjukkan bahwa hamba-Nya telah melalui jalan yang salah, menunjukkan bahwa Dia peduli tentang apa yang dilakukan dan apa yang ada dalam hati hamba-hamba-Nya.

Satu bulan lalu, masih terasa bahwa shubuh itu saat mendengar suara beliau di ujung telepon, “kecelakaan, bapak cuma lecet-lecet saja di muka dan kaki”

Hati mencelos, langsung terbayang bagaimana keadaan beliau, dan saya yakin beliau hanya membuat agar hati saya tenang dengan menambahkan kata ‘cuma’ saat menjelaskan keadaan yang beliau alami. Hati mencelos, langsung terbayang bagaimana kronologisnya, saat beliau menceritakan bagaimana beliau terlempar dari motor, tak sadarkan diri, sedangkan kakak kedua saya memeluk beliau sambil menangis.

Hati mencelos, saya tersedu, menangis, menyalahkan semuanya. Menyalahkan Bapak yang memaksakan diri pergi menyalahkan Kakak yang tidak hati-hati, menyalahkan sepupu yang berkhitbah hari itu. Termasuk diri saya sendiri yang tidak bisa berada di sana saat beliau membutuhkan. Maka dalam hatipun berteguh, selepas pelatihan pembina pramuka saya akan pulang ke rumah.

Dan Allah punya rencana lain saat itu, di perjalanan pulang ke rumah, saya mendapat kejutan lain dari Allah. Sudah terlalu larut saat saya tiba di terminal Serang malam itu, bis menuju Labuan sudah tidak ada lagi, maka seperti biasa saya putuskan untuk bermalam di masjid di terminal pakupatan, menunggu waktu shubuh sebelum melanjutkan ke rumah. Seperti yang biasa saya lakukan bila pulang dari saat kuliah dulu. Mungkin karena terlalu capek, saya yang biasanya terjaga di perjalanan, malam itu pulas di teras masjid, Adzan shubuh yang membangunkan. Dan saat tersadar ransel yang saya bawa lenyap. Hanya menyisakan kantong plastik berisi ransel hadiah untuk adik saya, yang saya jadikan bantal tidur. Lirik kanan kiri, tidak ditemukan sama sekali.

Continue reading